Ungaran,SUARAKPK.COM – Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah tahun ini menghadirkan banyak kisah inspiratif tentang semangat berbagi dan kepedulian sosial masyarakat. Salah satu yang menjadi perhatian publik adalah viralnya tradisi kurban di Dusun Krajan, Desa Batur, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, yang kembali “kebanjiran” hewan kurban hingga ratusan ekor.
Tahun ini, warga Dusun Krajan menyembelih sedikitnya 52 ekor sapi dan 339 ekor kambing yang berasal dari swadaya masyarakat setempat. Tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun sejak puluhan tahun lalu dan menjadi simbol kuatnya budaya gotong royong serta kesalehan sosial masyarakat desa.
Fenomena ini menjadi gambaran nyata bahwa spirit Idul Qurban bukan hanya tentang ritual penyembelihan hewan, tetapi juga tentang membangun solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama. Di tengah kehidupan modern yang semakin digital, masyarakat Desa Batur justru menunjukkan bahwa nilai kebersamaan tetap hidup dan mampu menjadi inspirasi nasional.
Kepala Desa Batur, Ahmad Fauzi, menyebut seluruh hewan kurban berasal dari iuran warga yang dikumpulkan secara bertahap selama satu tahun. Tradisi itu membuktikan bahwa semangat berkurban tidak bergantung pada kemewahan, tetapi pada keikhlasan dan kebersamaan masyarakat.
Menariknya, di era digital saat ini, semangat kesalehan sosial juga mulai mengalami transformasi. Penyaluran kurban kini banyak dilakukan melalui platform digital, aplikasi donasi, hingga media sosial yang memudahkan masyarakat berbagi tanpa batas geografis. Kampanye kurban online dan distribusi digital menjadi sarana baru untuk memperluas manfaat kurban kepada masyarakat yang membutuhkan.
Namun, viralnya tradisi kurban di Desa Batur menunjukkan bahwa teknologi seharusnya tidak menghilangkan makna sosial dari Idul Adha. Justru teknologi perlu menjadi alat untuk memperkuat nilai gotong royong, transparansi, dan pemerataan distribusi daging kurban.
Suasana warga Dusun Krajan yang bergotong royong menguliti, mengemas, hingga mendistribusikan daging kurban menjadi potret kuat tentang pentingnya kebersamaan sosial. Bahkan, daging kurban dari desa tersebut tidak hanya dibagikan kepada warga lokal, tetapi juga menjangkau daerah lain seperti Wonosobo, Batang, Pekalongan, hingga Purbalingga.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya individualisme, Idul Qurban 1447 H mengingatkan bahwa kesalehan sejati bukan hanya hubungan vertikal kepada Tuhan, tetapi juga kepedulian horizontal kepada sesama manusia. Spirit pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan keikhlasan Nabi Ismail AS menjadi teladan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari berbagi dan membantu orang lain.
Tradisi kurban melimpah di Desa Batur Banjarnegara akhirnya bukan sekadar viral di media sosial, tetapi juga menjadi simbol bahwa Indonesia masih memiliki kekuatan solidaritas sosial yang luar biasa. Nilai-nilai inilah yang perlu terus dirawat, baik melalui tradisi masyarakat maupun melalui pemanfaatan teknologi digital yang lebih humanis dan berkeadaban.
( REDAKSI: ENDAR W)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar