Ungaran ,suarakpk.com Ancaman krisis regenerasi petani kian nyata. Minimnya minat generasi muda terjun ke sektor pertanian membuat sejumlah daerah kewalahan, terutama saat musim tanam tiba.
Menjawab tantangan itu, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang tancap gas mendorong lahirnya petani milenial yang inovatif dan melek teknologi.
Kepala Dispertanikap Kabupaten Semarang, Edi Sukarno, menegaskan bahwa regenerasi petani bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak demi menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah meluncurkan Sekolah Tani Milenial, bekerja sama dengan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Citra Muda.
“Sekolah Tani Milenial kami rancang sebagai ruang belajar dan praktik bagi anak muda agar pertanian tidak lagi dipandang sebagai sektor tradisional, tetapi sebagai peluang usaha modern dan menjanjikan,” ujar Edi.
Sekolah Tani Milenial yang dipusatkan di Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, rutin digelar setiap tahun, umumnya pada periode September hingga Desember, dengan menghadirkan narasumber kompeten di bidang pertanian, teknologi, hingga kewirausahaan. Peserta dibekali keterampilan teknis, pemanfaatan alat mesin pertanian, serta pemahaman pasar.
Tak berhenti di situ, Dispertanikap juga menggandeng kelompok tani milenial NU bersama LPPNU untuk mengembangkan pertanian organik melalui pembuatan demonstration plot (demplot). Kolaborasi ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pertanian sehat, ramah lingkungan, sekaligus bernilai ekonomi tinggi.
Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengakui, berkurangnya tenaga kerja pertanian dari kalangan muda telah menjadi persoalan serius. “Saat musim tanam, kita sering kesulitan tenaga. Ini alarm bagi kita semua bahwa regenerasi petani harus dipercepat,” tegasnya.
Pemkab Semarang pun gencar menggelar pelatihan petani milenial di seluruh kecamatan. Hasilnya mulai terlihat. Pada 2024, tercatat sekitar 450 petani milenial, dan jumlah tersebut bertambah 450 orang pada 2025, sehingga total mencapai 900 petani milenial.
Para petani muda ini tidak hanya diarahkan untuk bertani, tetapi juga membangun mental entrepreneur. Dispertanikap berperan sebagai fasilitator agar mereka mampu mengelola usaha pertanian secara profesional, memanfaatkan teknologi digital, smart farming, serta mengoptimalkan pemasaran berbasis daring.
“Pertanian organik dan komoditas unggulan seperti kopi punya prospek besar. Nilai jualnya tinggi jika dikelola dengan baik,” tambah Ngesti.
Keseriusan pembinaan tersebut membuahkan hasil. Salah satu petani milenial kopi asal Kabupaten Semarang berhasil meraih juara satu tingkat Provinsi Jawa Tengah, menjadi bukti bahwa pertanian modern berbasis anak muda bukan sekadar wacana.
Dengan rata-rata usia petani yang kian menua, langkah agresif Pemkab Semarang mendorong petani milenial menjadi harapan baru. Bukan hanya untuk menjaga produksi pangan, tetapi juga mengubah wajah pertanian menjadi sektor yang modern, berkelanjutan, dan menjanjikan masa depan cerah bagi generasi muda.
( Redaksi: Endar W)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar