SEMARANG,SUARAKPK.COM – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di kawasan wisata Candi Gedong Songo, Kabupaten Semarang, Kamis (1/10/2026), tidak hanya diisi kegiatan budaya. Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Semar Gugat memanfaatkan momentum tersebut untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana pengembangan geotermal di kawasan Gunung Ungaran.
Aksi berlangsung sejak pagi di area parkir Candi Gedong Songo, Kecamatan Bandungan. Peserta datang dari sejumlah elemen masyarakat dan komunitas budaya. Kegiatan berjalan dengan pengawalan aparat keamanan dari unsur TNI dan Polri.
Dalam penyampaian aspirasinya, peserta menilai rencana pengembangan panas bumi di kawasan Gunung Ungaran perlu dikaji secara terbuka dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, budaya, hingga keberadaan kawasan situs bersejarah.
Massa kemudian menyampaikan sejumlah tuntutan. Mereka meminta seluruh proyek geotermal dihentikan, termasuk meminta pemerintah mencabut Keputusan Menteri ESDM Nomor 134.K/EK.04/MEM.E/2026 yang berkaitan dengan penetapan perusahaan panas bumi di wilayah Gunung Ungaran.
Selain itu, peserta mendesak adanya evaluasi terhadap Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi. Mereka juga menyuarakan desakan politik kepada Presiden untuk melakukan pergantian Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Salah seorang peserta aksi, Rahman, mengatakan penolakan tersebut muncul dari kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan perubahan kondisi lingkungan di kawasan Gunung Ungaran.
Menurut dia, kawasan sekitar Gedong Songo tidak hanya memiliki fungsi sebagai destinasi wisata, tetapi juga mempunyai nilai sejarah dan spiritual. Karena itu, masyarakat meminta agar setiap rencana pembangunan mempertimbangkan keberadaan situs serta ekosistem yang ada di kawasan tersebut
“Ini bentuk suara masyarakat yang merasa perlu menyampaikan kekhawatiran terhadap rencana pengeboran geotermal,” kata Rahman.
Aksi tidak berhenti pada penyampaian orasi. Peserta kemudian melakukan penanaman pohon sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Penanaman pohon tersebut sekaligus menjadi pesan kepada pemerintah agar aspek lingkungan tidak dikesampingkan dalam setiap kebijakan pembangunan.
Dalam kesempatan yang sama, Ki Tarno Kolocokro mengajak masyarakat dan pemerintah melihat secara menyeluruh kemungkinan dampak pengembangan panas bumi terhadap wilayah sekitar. Ia menilai diperlukan pembahasan yang terbuka sebelum kegiatan pengembangan dilaksanakan.
Setelah kegiatan di kawasan Gedong Songo, peserta melanjutkan agenda dengan diskusi atau curah pikir di pendopo kediaman Erik Sadewo yang berada di sekitar kawasan tersebut.
Forum tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk bertukar pandangan mengenai rencana pengembangan geotermal. Dari diskusi itu kembali mengemuka seruan “Tolak Geotermal Tanpa Kompromi”.
Aliansi Semar Gugat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat membuka ruang dialog dengan masyarakat. Mereka meminta persoalan geotermal tidak hanya dilihat dari sisi kebutuhan energi, tetapi juga dikaji dari aspek lingkungan, budaya dan kepentingan masyarakat yang berada di sekitar kawasan.
Sementara itu, selama berlangsungnya kegiatan, aparat TNI dan Polri melakukan pengamanan untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman dan tertib.
Hingga kegiatan berakhir, situasi di kawasan Candi Gedong Songo dilaporkan berlangsung kondusif.
( Redaksi: SUARAKPK/ EW)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar