PRINGAPUS, SUARAKPK.COM — Minggu, 16 Agustus 2026, Dusun Kertosari, Desa Pringsari, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, dipenuhi semangat kebersamaan warga dalam rangkaian Merti Dusun Kertosari.
Kegiatan tersebut bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi menjadi momentum masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur, mengenang sejarah dan leluhur, sekaligus menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Rangkaian kegiatan berlangsung meriah. Selain kirab budaya dengan gunungan hasil bumi, warga juga menampilkan kesenian tradisional reog atau jatilan kuda lumping. Pertunjukan tersebut mendapat perhatian masyarakat dan menjadi salah satu hiburan yang memperkuat suasana kebersamaan dalam kegiatan Merti Dusun.
Kesenian tradisional tersebut juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat warisan budaya yang telah berkembang di tengah masyarakat. Keterlibatan anak-anak dan pemuda terlihat dalam berbagai persiapan kegiatan, mulai dari membantu kirab, membuat miniatur hingga ikut dalam pertunjukan seni.
Kepala Desa Pringsari, Zaenal, menjelaskan bahwa Merti Dusun menjadi sarana untuk mempererat persatuan dan kebersamaan masyarakat sekaligus mempertahankan budaya lokal. Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan dan semakin banyak generasi muda yang ikut terlibat.
Sementara itu, Kepala Dusun Kertosari, Riyanto, menyampaikan bahwa Merti Dusun diharapkan mampu menjaga semangat gotong royong dan kerukunan warga. Menurutnya, kegiatan bersama seperti ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul, bersilaturahmi dan memperkuat rasa memiliki terhadap dusun.
Tidak berhenti pada kegiatan siang hari, pada malam harinya masyarakat Kertosari menggelar malam tirakatan, tahlil dan doa bersama. Warga berkumpul dalam suasana khidmat untuk memanjatkan doa, mengungkapkan rasa syukur serta memohon keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat.
Perpaduan antara kirab budaya, gunungan hasil bumi, kesenian reog atau jatilan kuda lumping, hingga malam tirakatan membuat Merti Dusun Kertosari memiliki makna yang lebih luas.
Semangat tersebut terangkum dalam tema “Kertosari Gumregah, Nyawiji, Memetri Budaya.” Gumregah menjadi simbol semangat untuk bangkit, nyawiji menggambarkan persatuan dan kebersamaan, sedangkan memetri budaya merupakan tekad untuk merawat dan melestarikan warisan leluhur.
Merti Dusun Kertosari akhirnya bukan hanya tentang gunungan hasil bumi. Di dalamnya ada rasa syukur, sejarah, penghormatan terhadap leluhur, kebersamaan dan harapan bagi masa depan.
Ketika warga masih mau berkumpul, bergotong royong dan mengenalkan kesenian kepada generasi muda, budaya itu belum mati. Ia masih bernapas dan terus hidup di tengah masyarakat.
Budaya lestari, warga sejahtera. Kertosari hebat, Pringsari guyub rukun.
( Redaksi: Endar W)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar