Pengenalan PMK Bagi Peternak Desa Kadirejo - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


Penghargaan dari Kedubes Maroko


 

19 Februari 2026

Pengenalan PMK Bagi Peternak Desa Kadirejo


 

KAB SEMARANG, suarakpk.com - Dalam rangka upaya mendukung pencapaian SDGs Goals3 untuk menjamin kehidupan masyarakat yang sehat, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang, telah memberikan edukasi tentang pencegahan penyakit pada ternak Ruminansia kepada kelompok tani Ngudi Rahayu Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kamis, (12/2/2026).


Menurut drh. Ikania Agusetyoningsih, M.Pt, didampingi Prof. Sugiharto, S.Pt, M.Sc, Ph.D, serta Prof. Ir. Retno Murwani, M.Sc, M.App.Sc, Ph.D, edukasi tersebut disampaikan dalam program pengabdian kepada masyarakat tentang pencegahan penyakit pada ternak Ruminansia, utamanya PMK dan LSD, ujar drh. Ikania kepada media.


dokter hewan yang akrab disapa Bu Ika ini menjelaskan, bahwa, penyakit mulut dan kuku (PMK) atau disebut juga dengan Foot and Mouth Disease (FMD), merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan menyerang semua hewan berkuku belah, seperti sapi, kerbau, babi, domba, kambing, rusa, gajah, dan sebagainya, ucap Ika.


Lanjut Ika, penyakit mulut dan kuku disebabkan oleh virus yang termasuk dalam famili Picornaviridae dan genus Aphthovirus, dan virus ini dapat mengkontaminasi pakan, dan mampu bertahan di lingkungan selama satu bulan.


Penyakit mulut dan kuku (PMK) juga bisa menimbulkan banyak dampak pada ternak yang terjangkit, antara lain penurunan bobot badan, penurunan produksi susu, kematian mendadak, keguguran, infertilitas dan hambatan dalam perdagangan ternak maupun hasil ternak.


PMK juga dapat menular melalui dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung, virus PMK sangat mudah menular, penyebarannya dapat melalui angin hingga radius 20 km, jelas Ika.


Sementara itu LSD (Lumpy Skin Disease) adalah penyakit menular pada sapi dan kerbau yang disebabkan Lumpy Skin Disease Virus (LSDV), anggota genus Capripoxvirus dari famili Poxviridae.


Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi, pembekakan pada kelenjar limfa, serta munculnya nodul atau benjolan keras dikulit yang dapat mengalami nekrosis dan meninggalkan bekas luka, beber Ika.


Lebih lanjut dikatakan Ika, selain itu, hewan yang terinfeksi LSD sering menunjukkan leleran dari hidung dan mata, penurunan nafsu makan, serta penurunan produksi susu.


Selain tersebut, penularan LSD dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau lesi kulit, penggunakan peralatan kandang yang terkontaminasi, serta melalui vektor serangga penghisap darah seperti nyamuk, lalat, dan caplak, namun demikian penyakit ini tidak menular kepada manusia, namun berdampak besar pada kesehatan dan produktivitas ternak, tandas Ika.


Ika menambahkan, bahwa faktor risiko penyakit LSD pada sapi terutama berkaitan dengan lingkungan, manajemen, dan kondisi kesehatan hewan, penyakit ini lebih mudah muncul di daerah dengan populasi serangga penghisap darah yang tinggi, seperti nyamuk, lalat, dan caplak, karena mereka berperan sebagai vektor utama penularan.


Dan musim hujan atau iklim lembab biasanya meningkatkan jumlah vektor, sehingga memperbesar peluang infeksi, atau kepadatan ternak dalam satu kandang juga menjadi faktor penting, karena kontak antar sapi mempercepat penyebaran, selain itu, sapi dengan imunitas rendah, sapi muda (pedhet), atau yang sedang setres lebih rentan terinfeksi, selain tersebut perpindahan ternak tanpa karantina serta penggunaan peralatan kandang atau jarum suntik yang tidak steril juga memperbesar resiko.


Untuk itu, prinsip pengendalian PMK dan LSD pada ternak adalah:

1. mencegah kontak atau memisahkan antar hewan peka dengan virus PMK dan LSD, caranya, melakukan pengawasan atau pembatasan lalu lintas hewan, pemusnahan terbatas pada hewan tertular dengan gejala berat, dan menghilangkan virus PMK dan LSD dengan desinfeksi kandang, termasuk peralatan dan bahan lain yang beresiko menjadi pembawa penyakit.


2. mencegah infeksi sekunder oleh mikroba lain yang dapat memperparah kondisi ternak.

3. Meningkatkan kekebalan pada hewan yang peka dengan pelaksanaan vaksinasi pada hewan peka, pungkas Ika.


Sementara itu, kepala Desa Kadirejo Riyadi yang diwakili oleh Sekdes Pramono, ketika dikonfirmasi pihaknya menyampaikan, atas nama pemerintah Desa Kadirejo dan atas nama kelompok tani Ngudi Rahayu Desa Ngadirejo, mengucapkan terima yang sebesar-besarnya atas program pengabdian Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Diponegoro kepada masyarakat Desa Kadirejo, semoga ilmu yang diberikan membawa manfaat dan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat khususnya kepada kelompok tani Ngudi Rahayu. (Mujib/Eddy).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HUT SUARAKPK Ke 9 (2018)