Gunungkidul, Suarakpk.com– Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin Menggebrak ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, pariwisata, dan dibidang kebudayaan.
Lumbung Mataraman Bendung bukan hanya sekadar proyek fisik, melainkan sebagai rangkaian perjalanan panjang dari tahun ke tahun, dan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), yang dirancang bersama masyarakat.
Semenjak tahun 2022, Kakurahan Bendung mulai berubah. Program Lumbung Mataraman yang bersumber dari Dais Rp. 750 menjadi gebrakan awal untuk mendukung sektor pertanian,dan peternakan.Dana tersebut dimanfaatkan khusus untuk mendukung sektor pertanian, dan peternakan melalui pembangunan kandang domba, pengadaan alat cooper, serta gudang pupuk.
Dari titik ini, ketahanan pangan tidak lagi menjadi jargon, tetapi praktik yang diupayakan bersama.
Lintasan Pembangunan Multisektor
Perjalanan Bendung berlanjut pada 2023. Dukungan datang dari berbagai OPD DIY. Melalui Dinas Koperasi dan UMKM, Bendung menerima Rp800 juta program Preneur. Sementara itu, Rp250 juta program Prima digunakan untuk pembangunan trotoar, serta penguatan wahana UMKM melalui Dinas DP3 DIY. Tahun ini juga ditandai dengan pembangunan greenhouse, menyusul pembuatan jalan setapak di kawasan Embung Mataraman pada 2022.
Momentum penting terjadi pada 2024, saat Kalurahan Bendung resmi menyandang status Desa Wisata dari Dinas Pariwisata DIY. Anggaran Rp750 juta digelontorkan untuk membangun panggung pertunjukan, pengadaan sound system, penataan area parkir, plaza, hingga jalan lingkar. Ruang publik mulai hidup, menjadi titik temu antara aktivitas ekonomi, seni, dan wisata.
Memasuki 2025, Bendung melangkah lebih jauh sebagai Desa Mandiri. Dari Dinas Kebudayaan DIY, anggaran Rp1,6 miliar dialokasikan untuk pembangunan Balai Budaya ruang ekspresi budaya yang secara prinsip tidak diperbolehkan untuk disewakan, demi menjaga fungsi sosial dan kulturalnya. Di tahun yang sama, sektor pertanian kembali diperkuat melalui pembangunan embung dengan anggaran Rp750 juta dari Dinas Pertanian DIY, menjawab kebutuhan air saat musim kemarau.
Pemberdayaan Tanpa Beban, Gotong Royong Jadi Nafas
Menariknya, dalam kurun 2022-2025, lahan seluas 1,5 hektare dibagi kepada 9 kelompok masyarakat tanpa pungutan dari kalurahan. Skema yang diterapkan berbasis gotong royong: 10 persen hasil panen dikumpulkan oleh Gapoktan, sementara 20 persen dialokasikan untuk ketahanan pangan desa. Pola ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus berorientasi pada retribusi, tetapi pada keberlanjutan dan kemandirian.
Sebagian aset dan kegiatan yang telah terbangun juga mulai ditransfer pengelolaannya kepada BumKal pada 2025, sebagai upaya memperkuat kelembagaan ekonomi desa.
UMKM, Ruang Usaha, dan PAD yang Bertahap
Di sisi lain, Kalurahan Bendung juga membuka ruang usaha melalui penyewaan container booth berukuran 2×1 meter sebanyak 19 unit. Pada 2025, tarif sewa ditetapkan Rp5.000 per hari sebagai kontribusi terhadap pendapatan desa.
Target 2026 disusun lebih terstruktur. Persewaan container direncanakan Rp1,2 juta per tahun per unit (19 unit). Selain itu, pendopo Prima, food court, dan galeri UMKM sebanyak 6 unit ditargetkan berkontribusi Rp1.850.000 per tahun per unit. Meski demikian, pemerintah kalurahan menegaskan bahwa PAD masih relatif rendah karena fokus utama masih pada pemberdayaan ekonomi masyarakat dan menjaga keberlanjutan program Embung Mataraman.
Dikerjakan Bersama, Diawasi Bersama
Seluruh kegiatan dikoordinasikan oleh 9 personel Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) yang terdiri dari unsur lembaga kalurahan, LPMD, tokoh masyarakat, dan pamong. TPK bertugas melakukan koordinasi dengan pelaksana teknis serta menyusun laporan belanja yang disampaikan ke bagian Ulu-ulu. Skema ini menjadi bagian dari tata kelola yang melibatkan banyak unsur, bukan kerja satu arah.
Menatap Tahun 2026: Budaya, Teknologi, dan Pariwisata
Tahun 2026 menjadi babak baru. Kalurahan Bendung direncanakan menerima Rp1 miliar Danais sebagai Desa Mandiri Budaya, ditambah Rp175 juta program padat karya tunai dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY, serta Rp120 juta dana reformasi birokrasi dari OPD pemberdayaan masyarakat desa tingkat DIY sebuah apresiasi atas capaian Bendung yang dinilai mampu bertahan dan berkembang.
Dana tersebut direncanakan untuk pengadaan drone penyemprot pertanian, pembangunan wahana jemparing (panahan Jawa) sebagai daya tarik wisata budaya, serta peralatan produksi untuk mendukung UMKM, desa wisata, dan desa budaya. Semua dirangkum dalam lima pilar Kalurahan Bendung: Prima, Preneur, Budaya, Wisata, dan Mandiri Pangan.
Lebih dari Sekadar Tampilan
Kemegahan dan keramaian kawasan Lumbung Mataraman Bendung yang terlihat hari ini bukan hasil satu sumber dana semata. Ia adalah akumulasi dukungan lintas OPD, konsistensi kebijakan, dan partisipasi masyarakat. Di balik panggung, plaza, dan embung, ada proses panjang merawat keberlanjutan.
Kalurahan Bendung memilih jalan yang tidak instan menata pondasi terlebih dahulu, agar desa tidak hanya tampak maju, tetapi juga mampu berdiri kokoh dalam jangka panjang. Sebuah perjalanan desa yang bukan sekadar membangun, melainkan bertumbuh bersama. (Red)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar