Di Pasar Tradisi Lembah Merapi, Rupiah Tidak Berlaku - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


KODE ETIK WARTAWAN SUARAKPK

16 September 2019

Di Pasar Tradisi Lembah Merapi, Rupiah Tidak Berlaku





MAGELANG, suarakpk.com - Siapa yang menyangka di puncak bukuti Gunung Gono, terdapat keramaian warga dan pengunjung, di tempat tersebut mampu menghipnotis pengunjung untuk merasakan kehidupan di jaman lampau. Pengelolaan Gunung Gono yang semula rimbunan pahon bambu dan semak belukar yang sepi dan menyeramkan, berhasil dirubah oleh Kepala Desa bersama warga Desa Banyubiru, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang menjadi sebuah tempat rekreasi alam serta budaya bahkan tempat ziarah, sehingga tercipta menjadi tempat yang banyak dikunjungi para wisata baik lokal maupun non lokal bahkan para pelancong dari luar negeri.
Sebuah ide dengan menyajikan sebuah pasar yang di sebut sebagai Pasar Tradisi Lembah Merapi. Pasar ini beroperasi dari jam 06.00 pagi WIB hingga jam 12.00 WIB waktu yang cukup lama yaitu seper empat hari. Tapi pasar ini buka hanya di hari Minggu saja.
Pasar yang berada di puncak bukit Gunung Gono diantara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi ini menawarkan nuansa wisata yang berbeda dengan memadukan wisata kuliner, wisata alam dan wisata religi.
Pasar tradisi Lembah merapi berlokasi di Dusun Gunung gono Desa Banyu Biru Kecamatan Dukun Kab. Magelang Jawa Tengah. Sekitar 4 KM dari Muntilan melalui jalan Muntilan Talun.
Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Banyubiru, Wintoro, siang tadi, Minggu (15/9) menuturkan bahwa konsep dari pasar tradisi Lembah merapi adalah berkonsep pada membudayakan kembali makanan tradisional yang sudah tidak banyak ditemukan di pasar - pasar modern bahkan mungkin jarang dijumpai di pasar tradisional.
“Selain dari pada makanan tradisionalnya  juga tempat displai yang di jual juga berkonsep trasisional dengan dipan bambu yang menunjukkan dan mendekatkan dengan keadaan di jaman lampau sebelum era modernisasi,” tutur Wintoro.
Menurutnya, konsep tersebut untuk mewujudkan sebuah kerinduan dengan jaman dulu yang serba serbi alami yaitu dengan wadah wadah display jual berupa wadah berbawan baku tanah liat serasa melihat film - film perjuangan masa lampau. Wintoro, mengukapkan, pasar ini pertama kali dibikin dari gagasan dari warga yang ingin menghidupkan kembali pasar-pasar tradisi yang sudah ada sejak jaman dahulu kala di kawasan Lembah Merapi.
"Konsep awal ini tidak keluar dari konsep jaman dulu warga lembah merapi. Pasar-pasar ini adalah ide masyarakat melalui pemerintah desa, kita hidupkan kembali. Di sini, kita jual masakan jaman dulu, hasil bumi, masakan siap saji, sayur mayur, kemudian hasil pertanian Konsep ini kita sajikan di pasar tradisi. Ini pertama kali diadakan, akan dilaksanakan setiap hari minggu," ujarnya.
Di pasar ini, lanjut Wintoro, lebih hanya berjualan dengan aneka jajanan pasar ditambah kerajinan tradisional. Berbagai jajanan pasar dapat dibeli dan di cicipi ditempat ini.
“Dari aneka pepes yang leyat dan menggairahkan, pecel dengan sayur mayur segar hasil bercocok tanam sendiri, tiwul dan gatot yang jarang ditemui lagi, berbagai apem yang alami tanpa pewarna dan pemanis buatan, jenang yang halus dan segar, adapula makanan yang sangat jarang lagi dijumpai yaitu rempah, makanan ini mungkin sudah tidak diketahui oleh anak - anak jaman sekarang, mendut,  wungkusan,  buah - buahan,  pecel, lotes, singkong godok (rebus), pisang rebus, growol, mangut ikan, buntil, lemper dan aneka makaman luar biasa jajanan pasar, serta minuman tradisional juga ada di sini. Ada wedang uwuh, wedang jahe, dawet ayu dan penganan jadul,” terangnya.
Namun, untuk diketahui, di pasar ini, mata uang rupiah terkesan tak laku. Mereka menggunakan mata uang khusus yang dinamakan 'Dhono. Satu keping dhono ini, kata Wintoro, setara dengan Rp 2ribu yang dapat dibelanjakan makanan yang ditawarkan di sini.
Pantauan di lapangan, Dekorasi pasar pun kental nuansa tradisional. Lapak pedagang menggunakan 'amben', sejenis meja berbentuk persegi panjang yang terbuat dari bilahan bambu yang ditatah dan direntangkan. Piringnya menggunakan anyaman bambu dengan alas daun pisang, batok kelapa yang sudah dibelah. Wadah minumnya menggunakan kendi, dan cangkir dari gerabah. Ditambah lagi alas daun pisang turut melengkapi, mangkuk batok, piring cowek, piring ayaman bambu menambah suasana hangat dan menariknya jawan dulu yang alami apa adanya tanpa rekaan dan hiasan yang palsu untuk benar - benar dinikmati.
Para penjualnya pun berdandan ala-ala masyarakat jawa jaman dulu. Pria memakai blangkon di kepala, dan pakaian tradisional seperti peranakan. Sedangkan penjual yang wanita mengenakan batik dan sanggul di kepala.
Anda ingin mencoba, silahkan datang ke Desa Banyubiru, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, di sana anda juga dapat menyewa Homestay yang telah disediakan warga, sambil menikmati terbitnya matahari di pagi hari. (team Ngopi Bareng/Red)

Lihat Liputan Videonya :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HUT SUARAKPK KE 9 (APRIL 2018)