PURWOREJO, suarakpk.com — Dugaan gangguan kesehatan yang dialami sejumlah siswa setelah mengonsumsi susu di lingkungan sekolah kini menjadi perhatian. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lugosobo. Saat ditemui awak media,Kamis (1/10/2026). Luthfi, menyampaikan hak jawab sekaligus menjelaskan langkah yang dilakukan setelah menerima laporan dari pihak sekolah.
Luthfi mengaku mendapat laporan sekitar pukul 10.00 WIB mengenai adanya siswa yang muntah setelah mengonsumsi susu. Ia kemudian mendatangi lokasi bersama petugas puskesmas untuk melakukan pemantauan terhadap siswa.
Sebanyak 24 siswa, menurut Luthfi, dikumpulkan untuk menjalani observasi sekitar 30 menit. Petugas kesehatan kemudian menanyakan berbagai keluhan yang dirasakan siswa, termasuk pusing dan sakit perut.
Namun, Luthfi menegaskan bahwa kondisi kesehatan siswa harus ditentukan berdasarkan pemeriksaan tenaga medis, bukan berdasarkan pengamatan pihak SPPG.
Sejumlah siswa disebut mendapatkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut. Sementara siswa yang dinilai stabil kemudian diperbolehkan pulang setelah dilakukan koordinasi dengan orang tua atau wali.
Sampel Dikumpulkan, Penyebab Belum Terjawab
Satu hal penting dalam kasus ini adalah pengumpulan sampel makanan untuk pemeriksaan. Langkah tersebut menjadi bagian dari proses penelusuran guna mengetahui apakah terdapat faktor tertentu yang berkaitan dengan keluhan para siswa.
Persoalannya, hasil pemeriksaan sampel hingga kini belum disampaikan dalam keterangan Luthfi.
Artinya, belum terdapat dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa susu atau makanan yang dikonsumsi siswa merupakan penyebab keluhan. Sebaliknya, kondisi siswa yang mengalami muntah juga tidak dapat begitu saja dianggap tidak berkaitan dengan konsumsi makanan sebelum hasil pemeriksaan resmi keluar.
Inilah yang menjadi titik penting dalam penelusuran kasus tersebut.
Luthfi juga mengungkapkan bahwa aktivitas penyaluran MBG di MI Asholih Penungkulan untuk sementara waktu dihentikan sambil menunggu perkembangan penanganan dan koordinasi dengan pihak terkait.
Di sisi lain, Luthfi menegaskan pentingnya penerapan SOP dalam setiap tahapan pelayanan. Mulai dari pengolahan hingga penyajian makanan, relawan disebut harus menggunakan perlengkapan pelindung diri seperti penutup kepala, masker, sarung tangan, dan celemek.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah seluruh prosedur tersebut telah diterapkan secara konsisten pada saat makanan dan minuman diberikan kepada siswa. Hal tersebut tentu perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan keterangan dari pihak-pihak yang berwenang.
Jangan Berhenti pada Klarifikasi
Kasus ini tidak cukup hanya diselesaikan melalui klarifikasi. Masyarakat membutuhkan informasi yang dapat diverifikasi mengenai hasil pemeriksaan siswa, hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan, serta evaluasi terhadap proses penyediaan dan distribusi makanan.
Koordinasi dengan puskesmas, kepolisian, TNI maupun instansi terkait disebut telah dilakukan. Karena itu, hasil penelusuran dari pihak-pihak tersebut menjadi penting untuk menjawab pertanyaan publik mengenai apa sebenarnya yang terjadi.
Luthfi sendiri menyampaikan permohonan maaf atas kekhawatiran yang muncul dan menegaskan bahwa pihak SPPG siap mengikuti proses penanganan serta pemeriksaan.
Suarakpk.com akan terus memantau perkembangan kasus ini, terutama hasil pemeriksaan medis dan uji sampel makanan. Sampai hasil resmi tersebut keluar, penyebab keluhan siswa belum dapat disimpulkan. (Alex/Red)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar