Siti Juriyah, S.Pd. Kepala TK Muslimat NU
Karangtengah Kaliwungu
KENDAL, suarakpk.com. Dalam Menciptakan Lingkungan Belajar yang Aman dan Nyaman. Sesuai dengan Permendikdasmen tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (2026), sekolah wajib membangun tata nilai yang menjamin perlindungan fisik dan keamanan sosial budaya bagi seluruh warga sekolah. Untuk menumbuhkan Budaya positif pada Jenjang
Taman Kanak-Kanak memerlukan suatu pendekatan yang unik. Murid PAUD gaya belajar lewat apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan sehari-hari. Oleh karena itu, TK Muslimat NU 16 Karangtengah mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan khas Nahdlatul Ulama (NU) dengan konsep disiplin positif modern untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenagkan yang berpihak pada Murid.
Menurut kepala sekolah penggerak angkatan ke 3 tahun 2025 TK Muslimat NU 16 Karangtengah, Kec. Kaliwungu Siti Juriyah, S.Pd, menghidupkan nilai Spiritual melalui pembiasaan sebagai lembaga pendidikan di bawah naungan Muslimat NU, penanaman karakter religius menjadi pilar utama Budaya positif. Pembiasaan kegiatan setiap pagi, suasana sekolah dibuka dengan lantunan Asmaul Husna, sholawat, hafalan surah-surah pendek, hadist pendek, dan doa bersama.
" Kegiatan ini bukan sekedar rutinitas formalitas, melainkan upaya membentuk cara pandang ( mindset ) spiritual anak sejak mereka menapakkan kaki di sekolah," ujarnya..
" Melalui pembiasaan ini, murid mampu belajar menghargai waktu, menghormati guru, dan menyayangi sesama teman sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta. Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah seperti tawazzun (seimbang), tasamuh (toleran), dan ta'adul (keadilan) dikenalkan melalui bahasa yang sederhana dan contoh nyata dalam interaksi sehari-hari," imbuhnya.
Mengganti Hukuman dengan Keyakinan KelasSalah satu ketidak sesuaian dalam dunia pendidikan adalah menganggap disiplin bisa ditegakkan melalui hukuman atau imbalan (reward). Di TK Muslimat NU 16 Karangtengah, pendekatan ini mulai bergeser ke arah pembentukan Keyakinan Kelas. Guru tidak lagi membuat aturan sepihak seperti "Dilarang Bertengkar", melainkan mengajak anak-anak berdiskusi untuk menyepakati nilai kebajikan bersama, misalnya "Saling Sayang T
Ketika menemui murid secara tidak sengaja merebut mainan temannya, guru tidak langsung memarahi atau memberikan hukuman. Guru akan menerapkan posisi kontrol sebagai pemantau atau manajer melalui Segitiga Restitusi. Anak diajak berbicara dari hati ke hati untuk menstabilkan identitasnya, memvalidasi tindakan yang salah, dan bersama-sama mencari solusi guna memperbaiki kesalahan tersebut. Dengan cara ini, anak belajar bertanggung jawab atas perilakunya tanpa rasa takut atau rendah diri.
Penerapan Budaya positif tidak akan pernah berhasil jika hanya berhenti di sekolah. Kolaborasi antara pihak sekolah dan orang tua murid (paguyuban) menjadi kunci keberlanjutan karakter anak. Apa yang sudah didapatkan atau ditanamkan di sekolah harus sinergi dengan apa yang dipraktikkan di rumah.
TK Muslimat NU 16 Karangtengah secara rutin mengadakan komunikasi dua arah dengan orang tua. Melalui Medsos grop whatshap maupun pertemuan berkala, guru memyampaikan perkembangan pembiasaan positif anak. Misalnya, jika di sekolah anak dilatih untuk mandiri makan MBG, merapikan sepatu dan alat makan sendiri, orang tua diimbau untuk memberikan kesempatan yang sama kepada anak saat berada di rumah. Sinergi ini memastikan bahwa rangsangan karakter berjalan konsisten selama 24 jam.
Lingkungan Fisik yang Mendukung
Selain budaya tidak benda berupa kebiasaan dan perilaku, budaya positif juga tercermin dari penataan lingkungan fisik sekolah. Ruang kelas didesain sedemikian rupa agar ramah anak, bersih, dan penuh dengan pajangan hasil karya mandiri siswa. Menampilkan karya anak di dinding kelas merupakan bentuk apresiasi nyata yang meningkatkan rasa tanggung jawab, percaya diri dan rasa kepemilikan anak terhadap kelasnya.
Cinta Lingkungan sekolah yang bersih dan hijau juga mengajarkan anak untuk peduli pada alam sekitar. Bentuk kegiatan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dan menyiram tanaman sekolah bersama-sama, gotong royong membersihkan halaman sekolah, anak-anak belajar memahami bahwa kenyamanan lingkungan adalah tanggung jawab bersama.
Membangun budaya positif di TK Muslimat NU 16 Karangtengah adalah sebuah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak terlihat dalam hitungan hari, tetapi fondasi kokoh yang ditanamkan hari ini akan membentuk generasi masa depan yang berakhlak mulia, mandiri, dan memiliki karakter kuat.
" Melalui perpaduan harmonis antara tradisi nilai islami dan pendekatan disiplin positif yang memanusiakan anak, sekolah ini membuktikan bahwa mendidik dengan kasih sayang jauh lebih kuat dibanding mendidik dengan kekerasan. Mari kita bersama-sama mendukung terciptanya ekosistem pendidikan yang positif, demi masa depan anak-anak kita yang lebih baik," pungkasnya. (dhon/red).


Alhamdulillah, bisa berbagi praktik baik disini.....
BalasHapus