TK Melati Desa Sukodadi, Belajar Bermakna, Bermain Dan Berkarya Bersama - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


Penghargaan dari Kedubes Maroko


 

20 Agustus 2026

TK Melati Desa Sukodadi, Belajar Bermakna, Bermain Dan Berkarya Bersama


          SITI WAHYUNINGSIH  TK Melati Sukodadi

KENDAL, suarakpk.com. Belajar bagi anak usia dini tidak selalu harus dilakukan dengan duduk rapi di dalam kelas, anak-anak justru akan lebih mudah memahami sesuatu ketika mereka dapat melihat, menyentuh, mencoba, bertanya, dan mengalami secara langsung.

" Berangkat dari pemikiran tersebut, saya mengajak anak-anak TK Melati Sukodadi untuk belajar di luar kelas melalui kegiatan yang sederhana tetapi penuh makna, yaitu memanen kedelai di sawah dan mengolahnya menjadi susu kedelai," kata Siti Wahyuningsih 

Dengan cara itulah yang diterapkan oleh Siti Wahyuningsih guru TK Melati Desa Sukodadi, Kecamatan Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal. 

Kegiatan ini bukan sekadar mengajak anak bermain di sawah. Di balik kegiatan tersebut terdapat berbagai pengalaman belajar yang mengembangkan kemampuan anak secara utuh, mulai dari nilai agama dan moral, kemandirian, sosial emosional, bahasa, kognitif, motorik, hingga literasi dan numerasi.


Dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, saya menemukan bahwa sebagian anak lebih mudah kehilangan fokus ketika pembelajaran hanya dilakukan di dalam ruangan. Anak juga membutuhkan pengalaman konkret agar lebih mudah memahami konsep literasi dan numerasi.

Saya kemudian berpikir, bagaimana jika pembelajaran dilakukan di lingkungan yang dekat dengan kehidupan anak?

Sawah menjadi pilihan yang sangat tepat karena anak dapat melihat langsung tanaman yang selama ini mungkin hanya mereka kenal melalui gambar atau cerita.

Dari sinilah muncul sebuah gagasan sederhana.

“Bagaimana kalau anak-anak tidak hanya melihat gambar kedelai, tetapi langsung pergi ke sawah, memanen kedelai, kemudian mengolahnya menjadi sesuatu yang bisa mereka nikmati," ujarnya.

Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pengalaman belajar yang nyata dan menyenangkan kepada anak.

Anak-anak diajak mengenal tanaman kedelai, mengamati bentuk dan warna bijinya, memanen, menghitung, mengelompokkan, serta mengikuti proses pengolahan kedelai hingga menjadi susu kedelai.

Dalam kegiatan tersebut, saya juga menyisipkan pembelajaran literasi dan numerasi secara alami.

Anak tidak merasa sedang “belajar membaca” atau “belajar berhitung”, tetapi mereka sedang bermain dan melakukan sesuatu yang menyenangkan.


Sesampainya di lokasi, wajah ceria dan rasa ingin tahu langsung terlihat. Mereka mengamati tanaman kedelai, menyentuhnya, bertanya, dan melihat bagaimana biji kedelai tumbuh.

“Bu, ini kedelai ya?”

“Bu, kok bijinya kecil?”

“Kalau sudah dipanen, nanti jadi apa?”tanya siswa pada gurunya.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut justru menjadi pintu masuk pembelajaran yang sangat bermakna.

Anak-anak kemudian mencoba memanen biji kedelai dengan pendampingan guru. Mereka belajar menggunakan tangan, melatih koordinasi motorik, bekerja sama, dan mengikuti aturan sederhana selama berada di sawah.

Setelah memanen, kegiatan dilanjutkan dengan mengamati dan mengelompokkan biji kedelai.Di sinilah numerasi hadir dalam bentuk yang menyenangkan.

Anak-anak diajak menghitung jumlah kedelai, membandingkan banyak dan sedikit, mengelompokkan biji, serta mengenal konsep ukuran dan jumlah.

Sementara itu, literasi hadir melalui kegiatan bercakap-cakap dan mengenal kosakata baru, seperti, kedelai – biji – tanaman – panen – rendam – tumbuk – saring – susu.

Anak-anak juga diajak menceritakan kembali apa yang mereka lihat dan lakukan. Dengan demikian, kemampuan bahasa mereka berkembang melalui pengalaman nyata.

Setelah mengenal dan memanen kedelai, anak-anak diajak kembali untuk mempraktikkan langsung proses membuat susu kedelai.

Anak-anak melihat bagaimana kedelai dibersihkan, direndam, diolah, kemudian disaring hingga menghasilkan susu kedelai.

Setiap tahapan menjadi kesempatan bagi anak untuk bertanya dan menemukan jawaban.

Mereka belajar bahwa sesuatu yang mereka lihat sebagai “biji kecil” ternyata dapat diolah menjadi minuman yang dapat dinikmati.

Yang paling menyenangkan adalah ketika anak-anak melihat hasil karya mereka sendiri.

“Ini susu kedelai yang kita buat!” ada rasa bangga yang terpancar dari wajah mereka.

Mereka bukan hanya mengetahui bahwa susu kedelai berasal dari kedelai, tetapi mereka mengalami sendiri prosesnya.

Kegiatan sederhana ini memberikan hasil yang sangat berarti.

Anak-anak terlihat lebih antusias, aktif bertanya, berani mencoba, mampu bekerja sama, dan lebih fokus mengikuti kegiatan.

Konsep literasi dan numerasi yang sebelumnya terasa abstrak menjadi lebih mudah dipahami karena hadir dalam kehidupan nyata. (dhon/red).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HUT SUARAKPK Ke 9 (2018)