Batu Bara - Nelayan di Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara minta pemerintah provinsi dan pusat segera melakukan pengerukan serta normalisasi muara Sungai Pagurawan yang mengalami pendangkalan parah.
Yusri warga Desa Nenassiam mengatakan pendangkalan muara sungai sudah terlalu lama dan sangat mengganggu aktivitas nelayan saat hendak melaut maupun saat kembali dari laut.
“Kalau air surut, dasar muara kelihatan jelas dan kapal nelayan sulit keluar atau masuk. Supaya bisa melintas, kami harus menunggu air pasang,” ujar Ilham, Minggu (24/01/2026).
Ia menjelaskan, dalam beberapa bulan terakhir kondisi nelayan semakin terpuruk akibat cuaca yang tidak menentu dan sulitnya mendapatkan ikan di laut. Pendangkalan muara sungai semakin memperberat kondisi ekonomi nelayan.
“Sekarang susah dapat ikan, hasil tangkapan sedikit. Pulang cuma bawa uang pas-pasan untuk makan,” tukasnya.
Senada dengan Yusri, salah seorang agen ikan bernama Joni, pendangkalan muara disebabkan oleh endapan lumpur dan pasir yang semakin tebal, sehingga nelayan khawatir kapal mereka kandas saat melintas.
“Muara Sungai Pagurawan ini akses utama nelayan untuk melaut dan pulang. Karena dangkal, saat air surut banyak kapal kandas dan nelayan terpaksa menunggu air pasang,” ungkap Joni.
Ia berharap pemerintah pusat dan pemerintah provinsi segera turun tangan melakukan pengerukan dan normalisasi muara Sungai Pagurawan agar aktivitas nelayan kembali berjalan normal.
“Kalau bisa segera dikeruk dan dinormalisasi, supaya nelayan tidak terhambat saat melaut atau pulang. Selama ini mereka harus bertahan di laut menunggu air pasang,” ungkap Joni.
Dangkalnya sungai Pagurawan diduga adanya sungai buatan di titi kembar perbatasan Desa Nenassiam dengan Desa Durian yang mengakibatkan aliran air sungai dari hulu ke hilir tidak normal.
Teks foto: Nelayan Pagurawan melakukan persiapan berangkat ke laut untuk mencari ikan. (Istimewa)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar