Mengenal Makam Ulama Besar Di Kab.Batang - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


RATAS Tentang Kelonggaran Angsuran Kredit

SUARA MERDU KAPOLRI

KODE ETIK WARTAWAN SUARAKPK

HUT SUARAKPK KE 9 (APRIL 2018)

08 Maret 2020

Mengenal Makam Ulama Besar Di Kab.Batang

SIRAH MAQOSIDANA
(Sambung Ruh Ulama Nusantara)

Syeikh Maulana Maghribi (Ujungnegoro, Kandeman Batang)
Kyai Agung Pekalongan
(Komplek Pemakaman Kuno Bukit Wonobodro, Blado, Batang)

Oleh : Sofyan Mohammad


Gemuruh itu aku dengar terus dan terus...
deburan ombak yang konstan menghujam karang karang adalah pesan yang hendak disampaikan...

Buih buih ombak yang terpendar, menggulung bersama butiran pasir dipantai adalah pesan atas kisah kisah yang berlalu

Kembali terus persengamaan diantara ombak, karang, buih dan pasir dipantai adalah sesuatu yang hendak mengungkapkan dari sesuatu yang terselimuti

Langit yang sesekali menampilkan panorama kilat diantara mega mega yang gelap adalah secuil kata samar yang terucap .........

Derai hujan yang  menghujam bumi malam hari adalah kata kata yang terjatuh dalam sajak...
Sajak tentang makna yang harus diungkap walau dengan daya kita yang lemah...
Dan tahukan kamu....? pergumulan itu jauh dari kata menyerah
terus, terus dan terus lagi walaupun darinya tahu jika ia akan kembali kelautan bebas untuk membentuk riwayat yang syahdan...

Sajak itu terjun bebas dimalam hari saat hujan mengguyur bersahutan bersama deburan ombak yang tak kan tahu diri di
Pantai Ujungnegoro

Sementara aku lindap...
tertutunku pada puncak pendakian Wonobodro karenannya....

..................................

Bermedium di Pantai Ujungnegoro, yang terletak di Desa Ujungnegoro, Kecamatan Kandeman Kabupaten Batang, Jawa Tengah lantas bermasrum di puncak perbuktitan Wonobodro, Desa Wonobodro, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa Tengah bisa menggugah kesadaran untuk berusaha menyusun puzle puzle misteri masa lalu yang berserakan yang sekurang kurangnya berusaha merangkai kontruksi atas suatu peristiwa yang telah terjadi pada masa lalu untuk dapat diketahui melalui adanya jejak peninggalan pada masa peristiwa itu terjadi, proses ini adalah bentuk kemampuan logika  menciptakan sebuah pertautan masa lalu yang terkemas dalam kisah berbentuk narasi guna menjelaskan cerita berdasar memori dengan mengabungkan pertautan antara dasar teori dan metodologi yang bertolak dari pengamatan dan pengalaman, yang demikian lantas disebut dengan ilmu yang tidak terikat oleh dimensi ruang dan waktu dengan suatu peristiwa masa lalu, yang disebut dengan sejarah yang jelas terikat oleh ruang dan waktu.

Berdasarkan catatan kronik Tiongkok dan diperkuat oleh tutur cerita turun temurun maka penyebutan Pantai Ujungnegoro diyakini bermula sejak abad ke 7 Masehi, ketika masa Kerajaan Kalingga atau Ho - ling yang berada di Pesisir utara Jawa Tengah, antara Batang, Pekalongan hingga Jepara yang kemudian paling dikenal adalah ketika kerajaan dipimpin oleh Sri Ratu Maharani Shima (674 – 732 M)

Eksistensi kerajaan ini ditandai dengan adanya
Prasasti "Sojomerto" yang ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Batang, dengan hal ini maka dapat meneguhkan keyakinan yang setidak tidaknya kekuasaan kerajaan Kalingga adalah sampai wilayah Batang saat ini atau bahkan justru di wilayah Batanglah pusat ibukota kerajaan berdiri. Prasasti yang terbuat dari batu andesit dengan tulisan yang terdiri dari 11 baris dan sebagian barisnya sudah rusak terkikis usia oleh para ahli dapat terbaca jika prasasti tersebut bersifat keagamaan Siwais yang isinya memuat semua keluarga dari tokoh utama yaitu Dapunta Selendra yang merupakan cikal bakal dari raja-raja keturunan Wangsa Syailendra yang pernah berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu, sehingga menurut ahli paleografi diperkirakan prasasti tersebut merupakan peninggalan Wangsa Sailendra yang hidup pada akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 masehi.

Menurut analisa para ahli sejarah maka Kalingga adalah kerajaan bercorak Hindu-Budha dan tentu juga ada penganut keyakinan lokal, dengan bahasa sehari-hari masyarakat dalah bahasa Melayu Kuno dan bahasa Sansekerta, dengan demikian penyebutan ujungnegoro dapat diartikan sebagai ujung tapal batas negara.

Selain prasasti dan tutur turun temurun maka keberadaan kerajaan Ho-ling ini juga beritakan oleh seorang pendeta sekaligus penjelajah bernama I-Tsing asal Tiongkok pada masa Dinasti Tang (618 – 906 M) yang diceritakan jika Kerajaan Kalingga masa itu menjadi salah satu pusat kebudayaan Budha Hinayana karenanya Sri Ratu Maharani Shima dikenal sebagai seorang Ratu yang sangat menghormati, mentaati dan menegakan hukum tanpa  pandang bulu yang dikisahkan jika salah satu anak kandungnya pun tak luput dari obyek penegakan hukum yang telah ditetapkan.

Menurut beberapa tutur yang berkembang maka Ujungnegoro pada saat itu merupakan pelabuhan dan dermaga bagi kapal kapal yang berlabuh dan keberadaanya juga masih terus berfungsi hingga kerajaan Majapahit telah berdiri (1293 - 1478 M) maupun Kerajaan Demak juga berdiri (1475 - 1548 M)
meski bukan salah satu pelabuhan utama namun Ujungnegoro tetap berfungsi sebagi Pelabuhan dan dermaga bagi kapal kapal yang berlabuh.

Berdasarkan berbagai kisah maupun analisa para ahli yang memunculkan spekulasi jika sejak masa Kekhalifahan Umayyah (661–750), Kekhalifahan Abbasiyah (1261–1517) hingga Kekaisaran Utsmaniyah maka telah mengirimkan para Auliya dan Mubaligh ke Kepulauan Nusantara guna mensyiarkan Agama Islam salah satunya adalah ke pulau Jawa. Kedatangan para ulama dari Timur Tengah tersebut di Pulau Jawa memunculkan spekulasi pertama kali mendarat adalah di Ujungnegoro, kemudian para Ulama tersebut berasal dari berbagai suku bangsa di Timur Tengah mulai dari negeri Persia hingga Negeri Maghribi yang meliputi Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, Mauritania, dan Sahara Barat di Afrika sekarang, para ulama tersebut datang secara berombongan dan bergelombang, disetiap ulama di maksud membawa pula murid atau santri yang mengikuti.

Dikisahkan pada masa Kekhalifahan Ustmaniyah dengan Rajanya Sultan Muhammad I suatu ketika telah mendapat wangsit untuk menyebarkan Agama Islam ke tanah Jawa dengan mengharuskan jumlah mubalighnya sembilan orang maka sejak saat itu dikirimlah Mubaligh yang berjumlah sembilan orang sebagai Dewan Dakwah, yang mana tiap mubaligh tersebut tentu membawa pula para murid dan atau santrinya dan pengiriman utusan para mubaligh tersebut oleh otoritas Ustmaniyah sudah beberapa kali dilakukan yang pada tahap tahap awal  mengalami kegagalan, karena pada umumnya masyarakat Jawa saat itu masih sangat memegang teguh kepercayaannya bahkan era itu sudah berkembang sekte sekte aliran kepercayaan yang sangat mistik, selain dari pada itu konon di Nusantara khususnya Pulau Jawa saat itu masih merupakan hutan belantara angker yang dihuni oleh makhluk halus dan jin-jin jahat, sehingga para Ulama tersebut mengalami banyak hambatan dan tak kurang dikisahkan jika pada saat itu banyak diantara rombongan utusan tersebut yang meninggal dunia di Tanah Jawa dan sebagian diantara merasa tidak mampu akhirnya pulang ke Negeri asalnya, sehingga misi pengirim dakwah di tanah Jawa secara bergelombang jika ada yang pulang atau wafat maka akan digantikan oleh ulama lain dengan  jumlah tetap sembilan sebagai Dewan Dakwah.

Mendapat laporan dan mengevaluasi adanya problem yang dihadapi maka pada akhirnya Sultan Muhammad I kembali mengutus mubaligh yang memiliki berbagai keahlian spesifik dari masing-masing ulama, misalnya keahlian tata negara, berdakwah, pengobatan, tumbal atau rukyah dan lain-lain dan singkat cerita para Ulama yang telah memiliki bekal keahlian tersebut akhirnya sampai ditanah Jawa salah satu diantara ulama tersebut adalah Syekh Subakir ulama asal Persia yang memilki keahlian dalam hal merukyah, ekologi, meteorologi dan geofisika, beliaulah yang dikisahkan secara khusus menangani masalah-masalah gaib dan spiritual yang dinilai telah menjadi penghalang utama diterimanya Islam oleh masyarakat Jawa kala itu, berdasarkan apa yang tertulis dalam Babad Tanah Jawa maka Syekh Subakir yang menguasai ilmu gaib dan dapat menerawang makhluk halus mengetahui penyebab utama kegagalan para ulama pendahulu dalam menyebarkan ajaran Islam yaitu karena dihalangi oleh para jin dan dedemit penunggu tanah Jawa, yang mana dikisahkan para mahluk askral tersebut bisa merubah wujud menjadi ombak besar yang mampu menenggelamkan kapal berikut penumpangnya atau menjelma menjadi angin puting beliung yang mampu memporak porandakan apa saja yang berada di depannya, selain dari pada itu para para lelembut tersebut juga bisa berubah wujud menjadi hewan buas yang dapat mencelakakan rombongan para ulama pendahulu tersebut.

Beberapa diantara para ulama yang datang bergelombang tersebut berasal dari negeri Maghribi yang diyakini bukan hanya satu figur saja namun beberapa orang sehingga ulama dari negeri Maghribi tersebut berjuluk "Syech Maulana Maghribi" atau "Syech Maulana Ibrahim" karenanya tak heran jika di Tanah Jawa banyak makam yang dipercaya merupakan makam dari pada Syech Maulana Maghrib atau atau Syech Maulana Ibrahim, sebut saja makam yang berada di Ujungnegoro Batang, makam di Wonobodro Batang, makam di Parangtritis Bantul, makam di Komplek Kasultanan Kanoman Cirebon, makam di Jatinom Klaten, Makam di Kaki Gunung Merbabu Pantaran Ampel Boyolali, makam di Gresik Jawa Timur atau Makam yang berada di Mojokerto Jawa Timur dan tentu masih ada lagi makam makam ditempat lain yang dipercaya merupakan makam Syech Maulana Maghribi, yang bisa jadi memunculkan spekulasi makam tersebut memang makam Ulama bukan satu orang melainkan beberapa orang yang berbeda karena datang secara bergelombang atau bahkan mungkin makam murid ulama yang pada pokoknya adalah orang orang yang berasal dari Negeri Magribi kemudian dilihat dari postur dan ras nya maka oleh masyarakat setempat bertutur secara general yang bersifat turun temurun jika makam tersebut adalah makam Syech Maulana Maghribi.

Namun dari berbagai literatur dapat terbaca jika Syekh Maulana Ibrahim adalah anggota Dewan Dakwah Wali Songo periode awal yang mendapat julukan Sunan Gresik yang dikenal dengan nama Syekh Maulana Muhammad al-Maghribi karena nenek moyangnya berasal dari Maghrib atau Maroko, Afrika bagian Utara, beliau dikisahkan menyebarkan agama Islam di pulau Jawa bagian timur hingga ke bagian barat, kemudian menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1419 M, namun demikian ada sirah lain yang menyebutkan jika beliau meninggal pada tahun 1465 M hal inilah salah satu indikator keshahihan spekulasi tersebut diatas.

Makam Syekh Maulana Maghribi yang berada di Ujungnegoro Batang menjadi salah satu makam yang pantas untuk di tabaruki sekaligus dikaji dengan korelasi Pantai Ujungnegoro yang memiliki riwayat sebagai dermaga bagi kapal kapal berlabuh sejak era Kerajaan Kalingga, Kerajaan Majapahit hingga Kerajaan Demak dengan demikian dari sekian banyak spekulasi dan analisa yang bertebaran terkait dengan ikhwal kedatangan para mubaligh yang terdiri dari para Aulia dari Timur Tengah maka tak berlebihan rasanya jika menempatkan makam Syekh Maulana Maghribi yang berada di bibir Pantai Ujungnegoro sebagai makam Syekh Maulana Maghribi pada periode awal, spekulasi ini semakin menguat jika rasionalitasnya membawa kita pada analisa tentang keberadaan bukit Wonobodro sekitar 25 Km dari Ujungnegoro atau sekitar 28 KM dari alun alun Kota Batang.

Dataran tinggi Wonobodro terletak di Desa Wonobodro, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang yang diatas puncak bukit terdapat komplek pemakaman kuno yang dipercaya terdapat puka makam dari pada Syekh Maulana Maghribi, terkait dengan ini tentu menjadi hal yang menarik mengingat hanya berjarak 25 Km dari Pantai Ujungnegoro maka terdapat 2 makam dengan nama satu orang yang sama, hal demikian barangkali tidak mengherankan apabila menggunakan analisa yaitu jika yang dimaksud Syekh Maulana Maghribi bukan 1 orang tapi beberapa orang yang sama sama berasal dari induk negeri yang sama yaitu Maghribi atau analisa tentang hubungan guru dan murid.

Dikomplek makam Wonobodro di sisi utama selain terdapat makam Syekh Maulana Maghribi maka berjejer pula makam yang diyakini sebagai makam Syeikh Subakir, Syeikh Kudus, Syeikh Subur, Syeikh Jumadil Kubro, Syeikh Jambu Karang, Syeikh Faqir Sugih, Syeikh Bandi Mati, Syeikh Juru Bahasa, Syeikh Wilodo Banyu dan Syeikh Kyai Pendeta.

Keberadaan makam Syeikh Subakir dikomplek pemakaman kuno Wonobodro menjadi hal yang menarik pula dikaji mengingat dari banyak catatan para ahli sejarah menyebutkan beliau dimakamkan di Gunung Tidar Magelang, Jawa Tengah dan ada lagi catatan menyebutkan di di Gunung Tidar tersebut hanya merupakan petilasan ketika beliau melakukan ruwatan menumbal atau merukyah puncering paku tanah Jawa setelah itu dikisahkan Syeikh Subakir pulang kembali ke Negeri asalnya di Persia kemudian meninggal dan dimakamkan disana, semua catatan tersebut rasional tergantung metodologi apa yang dipergunakan sebagai cara untuk melakukan pendekatan, namun kembali pada persinggungan keberadaan pantai Ujungnegoro yang konon sebagai dermaga bagi Kapal berlabuh berabad abad yang lalu yang bisa jadi merupakan tempat pendaratan bagi para Mubaligh dari Timur Tengah pada tahap awal maka bisa benar spekulasi jika makam yang berada di Puncak Wonobodro adalah benar benar makam Syeikh Subakir atau paling tidak menggunakan pendekatan hubungan guru dan murid.

Demikian keberadaan makam Syeikh Kudus di komplek pemakaman kuno Wonobodro tentu juga akan menimbulkan ambiguitas disatu sisi mengingat keyakinan mainstream menyatakan jika makam Sunan Kudus adalah yang berada di Komplek pemakaman di belakang Masjid Agung Kudus, Kota Kudus Jawa Tengah yang sudah terkenal itu, namun hal ini tentu menjadi sesuatu yang bukan ambigu lagi ketika nalar kita mengembara dengan pendekatan jika yang di maksud dengan Syeikh Kudus di Wonobodro bukankah person dari pada Sunan Kudus yang bernama asli Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan yang merupakan putra dari pada Sunan Ngudung panglima perang kerajaan Demak Bintoro waktu itu, demikian barangkali yang dimaksud Syeikh Kudus adalah Aulia dari timur tengah yang bertugas sebagai Mubaligh pada dewan Walisongo pada tahap awal.

Adapun makam dari pada Syeikh Subakir, Syeikh Kudus, Syeikh Subur, Syeikh Jumadil Kubro, Syeikh Jambu Karang, Syeikh Faqir Sugih, Syeikh Bandi Mati, Syeikh Juru Bahasa, Syeikh Wilodo Banyu dan Syeikh Kyai Pendeta di komplek pemakaman kuno Wonobodro bisa jadi merupakan rombongan mubaligh baik sebagai anggota Dewan Wali atau hanya sebagai murid dari Aulia anggota Dewan Wali dari Timur Tengah atau bisa jadi merupakan Aulia asli dari tanah Jawa yang sudah berkhitmad menjadi murid yang telah mencapai pencerahan dan telah memasuki Maqom keilmuan tertentu untuk dapat disejajarkan sebagai seorang yang sholeh,  berilmu dan beramal yang tinggi sewaktu masih hidup sehingga ketika  meninggal dunia maka memperoleh kedudukan untuk dimakamkan di komplek pemakaman para Aulia tersebut.

Di area puncak perbukitan Wonobodro maka juga terdapat komplek makam tersendiri yang diyakini sebagai cikal bakal atau mbahurekso wilayah Kabupaten Batang dan Kabupaten Pekalongan karena sejarah mencatat dahulu antara Batang dan Pekalongan adalah satu wilayah administratif yaitu Kabupaten Pekalongan kemudian menurut catatan sejarah jika Kabupaten Batang dapat dibagi dalam 3 periodisasi sejarah yaitu Batang berdiri sebagai Kabupaten adalah sejak awal abad 17 dan bertahan sampai dengan 31 Desember 1935 selanjutnya mulai tanggal 1 Januari 1936 Batang digabungkan dengan Kabupaten Pekalongan dan baru tanggal 8 April 1966 maka Batang resmi kembali menjadi Kabupaten sendiri yang terpisah dari Pekalongan, sehingga di puncak area dataran tinggi Wonobodro disebelah kanan dari pada makam utama juga terdapat komplek makam yang diyakini merupakan makam dari pada Kyai Agung Wonobodro, Kyai Agung Pekalongan, Kyai Agung Bahurekso, Ki Gede Tungteng, Ki Gede Sopo, Ki Gede Penatas Angin, Ki Ageng Penderesan, Ki Gede Maling Aguna serta Syeikh Wali Panjang.

Kyai Agung Wonobodro dan Kyai Agung Bahurekso dikisahkan sebagai cikal bakal dari pada Wonobodro yang telah tercerahkan hingga mencapai Maqom spiritual yang tinggi karena menjadi murid dari pada ulama dari Timur Tengah anggota Dewan Dakwah Walisongo, demikian dikisahkan Kyai Agung Pekalongan yang merupakan penguasa Pekalongan periode awal saat itu adalah putra mantu dari pada Kyai Agung Wonobodro.

Tutur turun temurun masyarakat sekitar mengisahkan jika para Ulama yang dimakamkan di komplek pemakaman Wonobodro dahulu adalah orang orang yang berdakwah mensyiarkan Agama Islam di wilayah Batang dan Pekalongan dimana pada saat menyebarkan kalam illahi Agama Islam adalah dengan menampilkan wajah yang santun penuh dengan kelemah lembutan dan sangat adaptif dengan mampu mengkreasikan akuturasi tatanan secara tepat sehingga tidak menimbulkan konfrontatif dengan keyakinan, tatanan, adat istiadat orang Jawa pada saat itu yang sudah sedemikian mapan dan terlembaga. Cara cara dakwah yang sangat adaptif serta elegant itulah yang diyakini sebagai pintu masuk keberhasilan dakwah Islam di Nusantara umumnya dan di pulau Jawa khususnya.

Sebelum memasuki area makam maka disebelah kiri akan diperlihatkan pesona yang berupa bangunan kecil yang dipagari besi yang menurut kisah diriwayatkan sebagai patilasan tempat "pasujudan" atau tempat laku "topobroto" dari pada Syeikh Maulana Maghribi sewaktu masih hidup, yang disamping bangunan tersebut mengalir air jernih dan sejuk diantara rerimbunan pohon pohon kekar, yang diyakini air tersebut merupakan air keramat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Memasuki area makam maka akan melalui bangunan kolam air yang mengalir air jernih yang dapat berfungsi sebagai tempat padasan wudlu, kolam besar dengan air muncrat keatas yang memancar dari bawah sebagai sumber mata air secara alami, disebelah kiri kolam tersebut berdiri bangunan mushola yang diperuntukan bagi peziarah putra,  sementara di sisi kanan kolam tersebut berdiri mushala yang diperuntukan bagi peziarah dari kalangan perempuan, selanjutnya untuk dapat memasuki area makam diatas bukit maka harus meniti undak undakan dan begitu sampai ujung undakan maka akan melewati gapura besar sebagai pintu gerbang, setelah itu akan terlihat jalur lurus lebar memanjang seperti lorong karena kanan kiri berjajar secara rapi pohon pohon yang kekar menuju makam utama yaitu komplek makam Syekh Maulana Maghribi, namun sebelum melewati jalan berlorong tersebut maka akan ada penunjuk ke arah kanan jalan menuju makam Kyai Agung Pekalongan yang dari sini peziarah akan bisa memilih akan berziaroh ke makam mana terlebih dahulu.

Diarea makam utama yaitu keberadaan makam Syeikh Maulana Maghribi, Syeikh Subakir, Syeikh Kudus, Syeikh Subur, Syeikh Jumadil Kubro, Syeikh Jambu Karang, Syeikh Faqir Sugih, Syeikh Bandi Mati, Syeikh Juru Bahasa, Syeikh Wilodo Banyu dan Syeikh Kyai Pendeta, setelah memasuki gapura maka akan melewati terlebih dahulu bangunan tembok yang dibuat menyerupai labirin yang membawa peziarah harus berjalan berkeliling mengikuti bangunan tembok tersebut, yang mana bangunan labirin mini tersebut adalah untuk membedakan jalan peziarah laki laki dan perempuan, namun disekitar bangunan labirin tersebut juga terdapat pusara pusara, adapun letak makam Syekh Maulana Maghribi berada di tengah bangunan tajuk yang ditopang empat tiang, kemudian ditutupi tirai kain kelambu yang menjuntai menampilkan kesan sakral sekaligus berwibawa, adapun makam para Aulia lainnya berada di kanan kiri makam utama tersebut.

Demikian makam Kyai Agung Pekalongan juga berada tepat ditengah tengah dengan tajuk berselimut tirai kelambu yang sungguh anggun nan sakral, sebelum sampai pada letak makam ini maka di depan terdapat makam Kyai Agung Wonobodro yang dibangun menyerupai panggung dengan tanah yang tinggi diantara makam makam lainnya.

Komplek makam kuno di perbukitan Wonobodro sudah populer sejak dahulu karena  masyarakat sekitar sudah mengenal dan mengetahui keberadaan makam tersebut sejak berabad abad yang lalu dengan sebutan makam Mbah Wali, demikian kesakralan makam ini  sebagai komplek makam Waliulkah tanah Jawa tahap awal, juga sudah diketahui oleh para Masyayikh maupun para spiritualis bahkan tak kurang Bung Karno konon di kisahkan telah beberapa kali berziarah sambang laku di komplek makam ini.

Pada saat ini komplek makam Wonobodro menjadi salah satu andalan destinasi wisata religi yang di kelola pemerintah daerah setempat, bahkan dalam acara haul yang digelar rutin tiap tahun dapat dihadiri oleh ribuan peziarah dari berbagai kalangan dan dari berbagai wilayah.

Dengan bertabaruk berziarah ke makam para Waliullah di Pantai Ujungnegoro maupun di bukit Wonobodro Batang Jawa Tengah maka akan menggugah kesadaran kita sebagai generasi penerus untuk dapat mengambil sari hikmah atas kesalehan dan kedalaman ilmu para ulama yang sudah mendahului kita, sehingga kita dapat menauladani segala kebaikan yang telah tertoreh untuk melanjutkan langkah-langkah kaki dibumi sembari menampilkan wajah wajah penuh kedamaian yang merupakan esensi citra agama yang rohmatan lil alamien, sebagai  generasi penerus maka kita bisa belajar dari sejarah yang sudah terlewatkan kemudian meneguhkan tekad untuk tidak melupakannya sehingga segala keluhuran budaya bangsa yang besar ini akan tetap lestari sampai anak cucu kita.

Bermedium di pemakaman Ujungnegoro dan bukit Wonobodro Batang, Jawa Tengah dengan melafadzkan kalam kalam suci Al Qur'anul Karim adalah sebentuk ketukan palu yang akan mengetam qolbu kita agar akrab dengan angin kematian yang pasti menghinggapi setiap mahluk dimuka bumi ini, sehingga bisa menuntun kita untuk dapat meluruhkan segala sikap sombong dan ego kita sebagai manusia karenanya kita dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik, semoga barokah tetap tercurah bagi semua mahluk dimuka bumi ini dengan petunjuk hidup yang tak berkesudahan.
........................................

Sejurus kemudian aku merabah dalam kehanyutan bersama kerlip kerlip bintang gumintang yang nun jauh disana aku tangkap sebuah pepetri terselubung pada kabut tipis........................

Karenanya cukup kembali aku baca puisi...
.......................................

Ziarah Tanah Jawa

Tinggal satu jalan yang ditunjukkan kota-kota berdebu pada usia enam satu. “Kembalilah ke Jawa…”
menyusuri jejak ingas kemadu merawat lempuyang sembukan yang makin jarang
memuliakan gunung sungai, membersihkan halaman dengan sapu sebelum matahari terbit dan terbenam

Lepaskan pula terompah sepatu dan seluruh buku
menapaklah dengan kaki telanjang biar pasir kerikil memijat kembali
telapak kakimu yang berkarat dan membesi

Disaksikan rumput ilalang, senyum dan tembang kusinggahi makam nenek-moyang
tanpa bertanya siapa mereka apakah keturunan matahari atau rembulan
apakah babad dan serat pernah mencatat atau menyebutkan

mungkin, lewat bunyi perkutut atau derkuku
mengejawantah lagi nasihat para wali
merasuk kembali papatah-petitih ke dalam puisi
merayakan sekuntum melati mekar
pada setiap hati sanubari ***

........................................

Wallahua'lam

Semoga Bermanfaat

Lahul Fatihah

Ujungnegoro - Wonobodro, Batang
7/03/20. 03.40 WIB
* Disari dari berbagai sumber bacaan, Wawancara dengan Juru Kunci Makam, diskusi dengan sejarawan dan spiritualis
** Penulis pernah belajar dipesantren walau hanya sebentar dan punya rasa penasaran dengan sejarah dan budaya, sekarang sehari hari tinggal di Desa.
 *** Puisi Karya Iman Budhi Santosa (Ziarah Tanah Jawa. Iman Budhi Santosa. Intan Cendekia, Yogyakarta. 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komedi