JELAJAH RUANG DAN WAKTU DENGAN KITAB KITAB KLASIK DI JOGLO KI PENJAWI SOLOTIGO - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


12 Januari 2020

JELAJAH RUANG DAN WAKTU DENGAN KITAB KITAB KLASIK DI JOGLO KI PENJAWI SOLOTIGO



Oleh : Sofyan Mohammad

Malam itu saya serasa memasuki dimensi waktu yang berbeda, lorong waktu telah mengantarkan pada situasi dimana raga saya berada di zaman era digital namun imajinasi saya berada di zaman ketika syiar Agama Islam tengah massif dilakukan dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan oleh para ulama Nusantara.

Malam itu mesin waktu telah diciptakan oleh lembaran demi lembaran kitab kitab kuno koleksi Pak Gunawan Herdiyanto pemilik Joglo Resto Ki Penjawi yang beralamat Jl. Ki Penjawi  No. 14 Salatiga. Jawa Tengah.

Resto unik yang berdiri diatas bangunan dan ruangan berarsitektur etnik Jawa total berbahan konstruksi dominan dari kayu jati yang dilengkapi dengan ragam furnitur dan ornamen hiasan dinding berupa topeng maupun pernak pernik property Jawa tempo dulu adalah tempat dimana saya menghabiskan malam itu bersama para Masyayikh mempelajari kitab kitab klasik karya para ulama Nusantara.

Alunan klonengan langgam Jawa mengalun berkolaborasi dengan bunyi rintik hujan yang jatuh di pelataran bangunan diikuti kepekatan malam berkabut yang lindap bersama harum aroma minyak hajar aswad, maka malam itu benar benar telah membawa kami untuk melesat jauh memasuki dimensi ruang dan waktu.

Kitab yang tengah di baca adalah kitab kitab kuno yang telah berusia ratusan tahun dimana secara fisik kitab kitab tersebut sebagian berbahan olahan kulit domba atau hewan sejenis dan sebagian lainnya berbahan kertas kuno, warnanya kuning kecoklat cokatan yang telah tertaburi jamur jamur secara alami. Sepintas tinta yang tergores dalam kitab tersebut berwarna hitam namun ada yang sudah kabur hingga menjadi keabu abuan, media tulisan itu terasa sedikit keras namun sebagian tampak lebih tajam, hal yang menandakan jika proses penulisan pada saat itu benar benar secara manual dan pengerjaan penulisan tidak dalam waktu yang bersamaan namun bertahap dalam rentang waktu yang cukup lama.

Dilihat dari model bentuk chord yang tidak konsisten dan goresan tinta yang dinamis menandakan pula jika kitab ini ditulis mengikuti mood dan suasana batin penulisnya waktu itu.

Hampir keseluruhan kitab kitab tersebut sudah sedemikian usang sehingga harus ekstra hati hati didalam membuka satu persatu halamanannya, jamur jamur yang melekat pada tiap halaman menjadikan lengket, jika tidak hati hati maka bisa membuat rusak atau robek kitab yang berbahan kertas.

Malam itu saya ikut membuka kitab kitab klasik tersebut dalam rangka ndereake - ngestoake (mengikuti) Poro Kyai dari PCNU Kota Salatiga yaitu Romo Yai Sumyani Aziz, beliau adalah Kyai yang telah meneguk secara tuntas ilmu dari Poro Masyayikh di Ponpes Al Falah Ploso Kediri maupun berbagai pondok pesantren di tanah Jawa, karenanya beliah dipandang telah cukup memiliki kepakaran dibidang kitab kitab klasik.

Simbah Yai Mohammad Nashihun Pengasuh Pondok Pesantren Al Salafiyah NU Blotongan Salatiga yang diketahui dahulu telah malang melintang nyantri di berbagai Pondok Pesantren di talatah bang Wetan atau Jawa Timur, ada juga Kyai Haji Doktor Miftahudin, MA yang memiliki rekam jejak sebagai seorang santri namun kini beraktifitas sebagai seorang Akademisi pengajar program pasca Sarjana IAIN Salatiga sekaligus aktif diberbagai lembaga profesional yang konsen masalah diskursus Islam Nusantara serta ada pula Sahabat Anshor Aditya Cahyo Putro yang dahulu seorang aktifis Mahasiswa dan sekarang aktif sebagai pegiat pada Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul (LPBHNU) Kota Salatiga.

Lembaran lembaran kitab yang dibaca oleh para Kyai tersebut menghasilkan diskusi tentang prediksi tentang sirah, kontent maupun hardware dari pada kitab kitab tersebut, pak Gunawan Herdiyanyo selaku pemilik mengawali dengan  mereferensikan kisah bagaimana dahulu kitab kitab tersebut diperoleh yaitu dengan cara yang cukup mengharu biru karena melalui proses yang melibatkan pengalaman spiritualitas.

Menulis kitab merupakan salah satu upaya intelektual dari para ulama terdahulu, yang dilakukan dalam rangka mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi selanjutnya. Dalam proses penulisanya maka diyakini para Ulama tersebut kerap melakukan ikhtiar batin atau laku spiritual dengan sangat istiqomah dan berkelanjutan dalam waktu waktu tertentu.

Dari telaah Romo Yai Sumyani Aziz setelah membuka lembaran demi lembaran kitab tersebut maka kita jadi mengetahui jika dahulu ketika ulama menulis kitab maka memerlukan syarat berupa Ilmu syar’i yang merupakan jalan panjang yang tidak mudah terwujud dengan baik kecuali dengan meninggalkan perkara yang sia-sia lagi melalaikan, serta harus mampu menangggalkan kesenangan syahwat belaka, sehingga ulama yang hendak menulis kitab haruslah ikhlas dalam menuntut ilmu, mencari keridhaan dan kecintaan Allah serta Ar-Rifqu (lembut, tidak terburu-buru, tapi bertahap).

Selain dari pada itu dalam penulisan kitab maka ulama dahulu selalu memperhatikan aspek manhaj atau metodolodi yang benar, hal yang dimaksudkan adalah untuk menjaga konsistensi dalam menulis sehingga tidak berhenti di tengah jalan.

Syarat penguasaan ilmu syar'i dan manhaj oleh ulama dahulu merupakan salah satu kiat untuk menghasilkan karya kitab yang memiliki kandungan isi yang bermanfaat fidunya wal akhiroh karenanya dalam  aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah ulama penghasil kitab kitab dimaksud mcendapatkan Taufiq dari Allah SWT dengan sebutan Aimmatul Huda yaitu para imam yang mengajarkan petunjuk Allah SWT.

Setelah secara seksama membuka lembaran lembaran kitab maka selanjutnya Simbah Yai Mohammad Nashikun melengkapi penjelasan yaitu untuk proses penulisan kitab kitab oleh para ulama maka memerlukan laku spritual panjang yang disebut dengan Riyadloh atau tirakat sebagai ajang pelatihan  hawa nafsu seseorang.

Tirakat berarti meninggalkan ragam kenikmatan-kenikmatan dunia seperti nikmat kenyang, nikmat tidur maupun nikmat kesenangan duniawi dengan menjalankan Riyadloh maka dapat melatih hawa nafsunya untuk semakin mudah menjalankan tujuan secara istiqomah, qonaah, ikhlas, syukur, zuhud, dan wirai.

Kitab kitab klasik koleksi Pak Gunawan Herdiyanyo di Joglo Resto Ki Penjawi kesemuanya ditulis secara manual tulisan tangan sehingga belum terbentuk menjadi manuskrib (maḥṭūṭāt) seperti halnya kitab kitab yang dapat dinikmati oleh para santri saban hari di pondok pesantren. Kitab kitab tersebut sama sekali belum terbaca adanya judul kitab, pengarang kitab maupun muhaqqiq atau catatan editornya karena kitab kitab tersebut original sebagai sebuah karya intelektual manual yang tidak berwujud kitab edisi cetak atau printed edition.

Secara fisik kitab kitab kuno tersebut berisi tulisan tangan dengan huruf Arab yang sudah sangat usang, bahkan beberapa di antaranya sudah tak utuh karena termakan usia maupun rayap, meski demikian secara pelan pelan dan hati hati huruf demi huruf masih dapat terbaca meski gramatical bahasanya memerlukan telaah lebih lanjut.

Mencermati dan membaca kitab kitab tersebut maka KH. Dr. Mitahudin MA memprediksi usia kitab tersebut sudah ratusan tahun diperkirakan mulai abad 16 sampai dengan abad 18 Masehi hal itu didasarkan pada hardware kitab yang bertolak dari pada bentuk kertas atau kulit bahan dasar kitab, font atau chord huruf, harokat, kualitas tinta serta adanya petunjuk kalender penulisan yang berbentuk sengkolo huruf yang dapat ditafsirkan sebagai tarikh.

Dari sisi software Poro Kyai malam itu sementara berkesimpulan  kandungan isi kitab kitab tersebut adalah menyangkut aspek pelajaran agama islam (diraasah al-islamiyyah),   fiqh, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa arab (ilmu nahwu dan `ilmu sharf), hadits, tafsir, `ulumul qur'aan, hingga pada ilmu sosial dan kemasyarakatan (mu`amalah), meskipun kitab kitab tersebut dapat dipastikan ada bagian bagian tertentu yang justru tertuang dalam kitab kitab lain yang masih tercecer.

KH. Dr. Miftahudin, MA menyampaikan jika beberapa kitab kitab tersebut ditulis oleh oleh ulama pada paruh abad 18 sezaman dengan era ulama KH.A.Rifa’i maupun Kiyai Sholeh Darat Semarang, karena sejak saat itu dimulailah penterjemahan kitab- kitab keilmuan Islam berbahasa Arab kedalam bahasa Jawa, Sunda, Betawi, Lombok, Madura maupun daerah daerah lain di Nusantara, era itu mulai menggeliat penerjemahan cabang seperti ilmu Aqidah (Ushuluddin), ilmu Ibadah (Fiqih), maupun ilmu tentang management qolbu (Tsawwuf/ Tazkiyyatun Nafs).

Penulisan kitab sendiri maupun penulisan melalui penerjemahan atas kitab kitab arab pegon oleh ulama Nusantara hingga saat ini masih memiliki tempat tersendiri bagi para santri, bahkan oleh para  Kyai Pengasuh Pondok Pesantren benar benar merasa terbantu ketika harus mengajar pada para santri santrinya, sehingga kitab kitab tersebut sungguh telah memperkaya khazanah keilmuan Islam di Nusantara.

Hasil karya berupa kitab oleh para ulama tersebut ketika dibaca oleh para mubtadi’in maka akan menimbulkan sugesti adanya energi daya kesakralan dengan tuah yang “mbarokahi” dibanding membaca kitab kitab lain baik terjemahan dengan tulisan latin maupun kitab kajian ilmu Islam Komtemporer yang rasa rasanya tidak dianggap sebagai kitab yang mbarokahi, tapi hanya sekedar buku pengetahuan.

Selanjutnya Romo Yai Sumyani Aziz sesaat setelah khusuk membaca salah satu kitab kuno tersebut menyampaikan jika kitab kitab tersebut disusun dengan penuh ketelitian untuk menjaga marwah sanad keilmuan yang jelas, alim serta dapat dirunut silsilah sumber ilmunya sampai pada Rasulullah SAW, lebih lanjut Simbah Yai Nasikhun menerangkan jika seseorang bisa keliru pikiran dan keyakinannya disebabkan ilmu yang diperolehnya salah dan tidak jelas sanad keilmuannya, sehingga belajar agama harus melalui guru atau membaca kitab yang jelas sanad keilmuannya karenanya meremehkan otoritas ulama dan guru berikut kitab yang dihasilkan adalah salah satu awal adanya kesesatan yang bisa kita lihat fenomena akhir akhir ini yaitu banyak orang mudah menjatuhkan vonis kepada sesama dengan tuduhan bid'ad maupun kafir.

Sementara KH. Miftahudin MA menjelaskan kenapa ulama Nusantara tetap runtut sanad keilmuannya hingga sampai Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah karena hubungan guru-murid lintas benua dan merentang dalam waktu panjang yang merupakan bagian dari poros jaringan ulama Timur Tengah yang berpusat di Tanah Suci Makkah dan Madinah, dari sana, ulama asal Indonesia belajar kepada ulama setempat setelah pulang ke Nusantara terjalin hubungan guru-murid yang dikenal sanad, hal demikian menjadi salah satu kunci untuk meneguhkan ghiroh perjuangan membentuk Nusantara.

Malam beringsut semakin kelam, kabut tipis pelan pelan membaur dengan asap rokok yang kami hisap, suguhan wedang uwuh habis kami seruput menyisakan ampas dalam teko sementara mangkuk hanya menyisakan sedikit kuah atas suguhan berupa sop iga dan bakmi jowo yang nikmatnya menciptakan sensasi hangat pada tubuh saya ditengah dingin malam yang masih terguyur gerimis hujan.

Bunyi perkutut sesekali masih kami dengar bersamaan dengan alunan langgam jawi yang samar samar terdengar diantara petuah ilmu dari para Kyai PCNU Salatiga hasil pendalaman singkat kitab kitab kuno tersebut telah menghujam kedalam rohani spiritual saya yang susah untuk dilukiskan dengan kata kata sementara Sahabat Adityo yang duduk disebelah saya tampak diam penuh takdzim tanpa mengurai kalimat apapun selain beberapa kali saya mendengar berguman lirih dengan bunyi kalimat "Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah"

Angin malam itu berhembus dengan landai mengisyaratkan keberkahan yang makin sempurna dengan lantunan doa yang panjang lagi khusuk di sematkan oleh Simbah Yai Mohammad Nasikhun yang menderai memanah Qolbu saya untuk mentakdzimkan kalimah Amien Ya Robal Alamien.

Tabaruk ilmu semalam di Joglo Resto Ki Penjawi  adalah penggalan kisah pengalaman yang tak terlupakan dan menjadi hari Jumat yang penuh Barokah

Semoga Allah SWT Meridhoi

Lahul Fatihah

Jawa Jawi, 11/01/20.
01. 45. WIB

Sofyan Mohammad
Pemerhati budaya dan sejarah sehari hari tinggal di desa bantaran sungai serang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HUT SUARAKPK Ke 9 (2018)