Punti Kayan Belum Terjamah Listrik - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


14 October 2018

Punti Kayan Belum Terjamah Listrik


Akhir September lalu, tepatnya 24 September 2018, Inavis memberangkatkan 35 orang relawan yang berasal dari berbagai kalangan untuk mengabdikan diri di batas Indonesia yaitu Entikong, atau yang lebih tepat yaitu Dusun Punti Kayan. Kegiatan pengabdian kali ini bernama Ekspedisi Berbakti #3. Seluruh peserta diberangkatkan dari Banda Soekarno Hatta, yang dipandu oleh tiga fasilitator Inavis yaitu Acha, Bageur, dan Ryan.
Setelah tiba di Pontianak, mereka melanjutkan perjalanannya menggunakan bus, untuk tiba di Dusun Punti Kayan membutuhkan waktu lebih kurang delapan jam. Setelah sejenak disambut pemandangan kota Pontianak, beberapa jam kemudian mereka disuguhkan oleh pepohonan, semak, dan ilalang. Tiang-tiang listrik semakin berkurang, lagit semakin gelap, dan hujan mulai turun deras, serta jalanan yang semakin meliuk seperti ular. Namun akhirnya mereka tiba juga disana sekitar tengah malam. Kedatangan yang disambut baik oleh kepala dusun dan warga setempat. Selama beberapa hari tersebut, mereka menempati rumah Pak Kepala Dusun Punti Kayan.
Di hari pertama, mereka mulai melakukan pemetaan lingkungan. Kesimpulan yang diperoleh yaitu: masih sedikitnya sumber air bersih, tempat pembuangan akhir belum ada, infrastruktur masih belum memadai, dan masih banyak lagi kepincangan yang harus dibenahi.
Setelah memahami keadaan fisik dan psikis lingkungan Punti Kayan, barulah kemudian di hari berikutnya seluruh relawan ini menjalankan beberapan program yang telah mereka buat. Ada empat divisi, yaitu: pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, serta lingkungan. Masing-masing divisi ini telah berupaya memberikan semampu yang mereka bias berikan, disesuaikan dengan kebutuhan warga.
Pada divisi pendidikan, maka akan kita dapati antusias anak-anak ketika melakukan percobaan sains sederhana, keseruan saat bermain sambil belajar, serta binar tatap mereka ketika mengutarakan mimpinya masing-masing pada saat pembuatan pohon impian. Meski hidup dengan segala keterbatasan dan ditemani malam yang gulita, namun hati anak-anak Punti Kayan selalu bersinar dengan bintang-bintang impian, yang semakin hari semakin terang.
Kehangatan juga terasa ketika divisi kesehatan menjalankan programnya yaitu pemeriksaan kesehatan gratis. Masyarakat Punti Kayan begitu bersemangat, meski harus antri dari siang sampai petang. Ketika malam telah tiba, Punti Kayan mulai gelap, meski tanpa listrik, warga tetap antusias mengikuti pemeriksaan sampai larut. Beberapa divisi kesehatan tersebut menggunakan penerangan dari senter handphone mereka. Berdasarkan hasil wawancara dengan warga setempat, mereka menuturkan bahwa untuk bidang kesehatan itu sendiri mereka biasanya mengandalkan dukun desa, karena jarak temput yang jauh untuk ke rumah sakit.
Beranjak ke divisi ekonomi kreativ. Dengan melihat potensi alam yang ada di Punti Kayan, maka para anggota ekonomi kreativ ini mengajak ibu-ibu setempat untuk membuat nugget singkong. Mengingat betapa sigkong menjadi tanaman yang sangat berlimpah di daerah tersebut. Dengan pembuatan nugget singkong ini, diharapkan dapat menambah nilai jual singkong, selama ini hanya direbus atau digoreng, atau bahkan hanya dirajang untuk makan pengan/babi. Kini menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Tidak hanya itu, ada tiga kegiatan lainnya yang dilakukan yaitu pembuatan gantungan kunci dari tepung, bazar murah, dan budaya menabung.
Divisi yang berikutnya yaitu lingkungan. Divisi ini lebih banyak melibatkan kawula remaja dan dewasa. Terdapat beberapa program yang dilaksanakan, diantaranya yaitu pembuatan TPA, serta pengolahan kompos, karena yang terjadi selama ini di Punti Kayan yaitu belum adanya kesadaran dan pengetahuan akan hal tersebut. Sampah masih banyak yang dibuang di sungai, sementara di Punti Kayan itu sendiri sungai merupakan urat nadi utnuk berlangsungnya kehidupan mereka.
Setelah lima hari bermalam di bawah langit Punti Kayan, seluruh delegasi akan pulang. Keramahan warga Punti Kayan telah berhasil menjahit segala keasingan ini menjadi sehelai kain indah sekali. Di malam penutupan, semuanya berpamitan, air mata menyelinap di antaranya. Banyak sekali bekal yang warga Punti Kayan berikan untuk seluruh relawan Inavis. Mulai dari Asam Kalimantan, Tempuyak, Takin, dll. Selain bekal secara fisik, ada juga bekal kalimat yang merek titipkan kepada para relawan,
“Adik-adik, tolong sampaikan kepada Pemerintah, bahwa daerah Punti Kayan ini belum ada listrik. Masyarakat Punti kayan akan bangga menjadi warga Indonesia kita bisa lebih diperhatikan,” tutur Mamak Aan, salah satu warga Dusun Punti Kayan.
Kalimat itu merambat perlahan di telinga, meninggalkan sesak di dada para relawan. Amanah besar itu dititipkan di punggung mereka, seolah mereka adalah orang-orang hebat yang bisa melakukan banyak hal. Pada kenyataannya, para relawan ini pun hanyalah orang biasa yang berusaha untuk memberikan sebaik mungkin apapun yang mereka miliki.
“Harapannya semakin banyak pihak yang bergerak, ikut turun tangan terlibat dalam proses kemajuan daerah-daerah di perbatasan, khususny a Punti Kay?an,” ungkapan terakhir yang ditutukan Ali, sebagai     Diki Edo nko rodo ha go relawan Inavis Ekspedisi Berbakti #3 ini. Sebelum kemudian mereka berpisah di Bandara Soekarno Hatta, dan kembali pada kegiatan masing-masing, dan harus kembali mengakrabi kebisingan. (Della/Sukoco)

No comments:

Post a Comment