SOLO, SUARAKPK.COM – Suasana budaya dan tradisi Jawa akan menyelimuti Puro Mangkunegaran, Kota Surakarta, dalam rangkaian pernikahan agung atau Dhaup Ageng G.R. Ajeng Ancillasura Marina Sudjiwo (Gusti Sura) dengan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian.
Prosesi pernikahan yang berlangsung pada 3–7 November 2026 tersebut tidak sekadar menjadi perayaan penyatuan dua insan, tetapi juga momentum untuk memperkenalkan kekayaan adat, tata cara, serta nilai-nilai luhur yang diwariskan dalam tradisi Mangkunegaran.
Berbagai ritual adat telah disiapkan dengan pusat kegiatan di lingkungan Puro Mangkunegaran. Setiap tahapan memiliki makna filosofis tersendiri, mulai dari memohon kelancaran, penyucian diri, hingga prosesi penyatuan kedua mempelai.
Rangkaian acara diawali Selasa (3/11/2026) melalui ritual Wilujengan Ageng atau selamatan lengkap serta pemasangan tarub dan janur kuning di Topengan Bangsal Tosan. Prosesi ini menjadi bentuk doa dan permohonan restu agar seluruh rangkaian pernikahan berjalan lancar.
Pada hari yang sama, dilaksanakan tradisi Adang Sapisan, yakni prosesi menanak nasi oleh ibunda calon pengantin wanita menggunakan dandang pusaka Nyai Dhenok beserta perlengkapannya, Mbok Roro Sumyang.
Tradisi tersebut menjadi salah satu bagian istimewa yang memperlihatkan bagaimana pusaka dan tata cara leluhur tetap mendapatkan tempat dalam kehidupan keluarga Mangkunegaran.
Selain itu, kedua calon mempelai menjalani prosesi Sengkeran atau pingitan. Calon pengantin wanita berada di kamar pengantin Ndalem Pracimoyoso selama dua hari, sedangkan calon pengantin pria menjalani proses nyantri di Ndalem Prangwedanan.
Memasuki Rabu (4/11/2026), calon pengantin pria bersama keluarga akan diterima di Pendhopo Ageng sebelum menuju Ndalem Prangwedanan. Penyambutan tersebut dimeriahkan tarian Beksan Menak Koncar yang dibawakan tujuh penari dari Kawedanan Langen Projo.
Pada Kamis (5/11/2026), rangkaian tradisi berlanjut dengan prosesi langkahan di Ndalem Ageng bagi calon pengantin wanita, serta siraman yang dilaksanakan di Ndalem Pracimoyoso untuk calon pengantin wanita dan Ndalem Prangwedanan untuk calon pengantin pria.
Malam harinya, suasana khidmat akan mewarnai prosesi Midodareni di Pendhopo Ageng. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian persiapan menjelang hari pernikahan.
Puncak prosesi pernikahan berlangsung Jumat (6/11/2026). Pemberkatan pernikahan dijadwalkan pada pagi hari di Gereja Santo Antonius Padua Purbayan. Selanjutnya, pada sore hari dilaksanakan upacara Panggih di Pendhopo Ageng Puro Mangkunegaran.
Pada hari yang sama, masyarakat juga diajak merasakan kemeriahan melalui Pesta Rakyat atau Mangayubagyo Dhaup Ageng di Pamedan Puro Mangkunegaran. Kegiatan ini berlangsung hingga 8 November 2026 dengan menghadirkan berbagai tenant hidangan.
Sementara itu, Sabtu (7/11/2026), masyarakat berkesempatan menyaksikan secara langsung prosesi kirab pengantin menggunakan kereta Glasslandauer. Kirab tersebut menjadi salah satu agenda yang dinantikan karena menghadirkan nuansa tradisi dan kebesaran budaya Mangkunegaran di tengah masyarakat.
Pesta Rakyat, Ruang Kebersamaan dengan Masyarakat
Lebih dari sekadar perayaan keluarga, Dhaup Ageng 2026 juga menjadi momentum untuk mendekatkan Mangkunegaran dengan masyarakat Kota Solo.
Melalui pesta rakyat, Mangkunegaran mengajak masyarakat untuk turut mangayubagyo, yakni ikut menyampaikan kebahagiaan dan doa atas pernikahan kedua mempelai.
Berbagai kegiatan disiapkan agar masyarakat dapat menikmati suasana perayaan secara lebih dekat. Salah satunya pemutaran film ramah anak bersama komunitas sinema yang juga akan mengundang 200 anak dari yayasan yatim piatu.
Kegiatan tersebut menjadi wujud bahwa perayaan budaya tidak hanya menghadirkan kemegahan seremoni, tetapi juga dapat menjadi ruang berbagi kebahagiaan, kepedulian, dan kebersamaan.
Menjaga Warisan Budaya Lintas Generasi
Dhaup Ageng 2026 sekaligus menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat filosofi tradisi Mangkunegaran.
Setiap tata cara, busana, musik, simbol, hingga ruang yang digunakan dalam prosesi pernikahan bukan sekadar pelengkap acara. Di dalamnya terkandung nilai-nilai kehidupan, tata krama, penghormatan terhadap leluhur, serta identitas budaya yang terus dijaga.
Melalui penyelenggaraan rangkaian adat tersebut, warisan budaya Mangkunegaran kembali diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Dhaup Ageng 2026 pun diharapkan menjadi perayaan yang menyatukan tradisi, keluarga, dan masyarakat dalam suasana penuh kehangatan.
Sebab, kemegahan sebuah tradisi bukan hanya terletak pada upacara dan simbol kebesarannya, melainkan juga pada nilai kebersamaan serta warisan budaya yang mampu diteruskan dari generasi ke generasi.
( Redaksi: Endar W)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar