Riyanta: Gerakan Menjaga Lingkungan Harus Nyata, Jangan Ada Pengkhianatan - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


Penghargaan dari Kedubes Maroko


 

07 September 2026

Riyanta: Gerakan Menjaga Lingkungan Harus Nyata, Jangan Ada Pengkhianatan


Kabupaten Semarang, SUARAKPK.com – Tokoh Gerakan Jalan Lurus (GJL), Riyanta, S.H., mengajak para aktivis dan masyarakat untuk terus bergerak mengawal kelestarian lingkungan serta mengawasi kebijakan pengelolaan sumber daya alam. Hal tersebut disampaikan oleh Riyanta saat hadir  di acara pembentukan pengurus Aliansi penyelamatan Gunung Ungaran dan Telomoyo,pada hari Minggu ( 6/9/2026) di Ungaran.


Menurut Riyanta, dukungan terhadap upaya penyelamatan lingkungan tidak cukup hanya melalui wacana. Harus ada gerakan nyata dari masyarakat untuk mengawal berbagai persoalan yang terjadi di lapangan.


“Harus kita dukung dengan gerakan-gerakan. Dengan gerakan-gerakan, kita bisa menghentikan semuanya,” tegas Riyanta.


Ia menyoroti kondisi kawasan Pegunungan Kendeng yang menurutnya telah mengalami kerusakan serius akibat berbagai aktivitas pemanfaatan sumber daya alam.


“Prinsip saya, lingkungan saat ini harus dijaga. Gunung Kendeng itu sudah habis total,” ujarnya.


Riyanta juga mengkritisi pengelolaan kawasan hutan dan pemanfaatan kayu yang menurutnya perlu mendapatkan pengawasan secara serius. Ia menilai kebijakan pengelolaan sumber daya alam harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dan kepentingan masyarakat.


Menurut dia, persoalan kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi di Pulau Jawa, tetapi juga di berbagai wilayah Indonesia.


Riyanta kemudian menyinggung kondisi kawasan hutan yang disebutnya mengalami penyusutan luas pengelolaan. Ia menyebut, dari sekitar 2,4 juta hektare, luas kawasan yang tersisa disebut tinggal sekitar 1,3 juta hektare.

“Ini fakta. Tolong kawan-kawan aktivis untuk dipahami,” katanya.


Ia menyampaikan informasi yang diperolehnya dari komunikasi dengan pihak yang berkaitan dengan bidang planologi. Menurut informasi tersebut, dari sekitar 1,3 juta hektare kawasan yang tersisa, sekitar 1,1 juta hektare nantinya akan dikelola Perhutani, sedangkan sekitar 200 ribu hektare akan diberikan kepada masyarakat.


Riyanta menilai persoalan tersebut perlu dikaji secara serius karena kebijakan pengelolaan sumber daya alam, menurutnya, dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan terjaga atau rusaknya lingkungan.


“Ini sebenarnya sumber-sumber kerusakan disebabkan oleh kebijakan. Termasuk barangkali nanti yang kaitannya dengan Gunung Ungaran. Ini yang harus kita usahakan,” tegasnya.


Ia juga mengajak masyarakat dan aktivis untuk tidak tinggal diam terhadap berbagai persoalan lingkungan di daerah.


Riyanta menilai masyarakat harus berani menyampaikan kritik apabila menemukan kebijakan atau praktik yang berpotensi merugikan lingkungan dan kepentingan rakyat.

Bangkitkan Kepercayaan Diri Masyarakat

Selain berbicara mengenai lingkungan, Riyanta juga mengajak masyarakat untuk membangkitkan kembali rasa percaya diri terhadap kemampuan bangsa sendiri.


Ia menegaskan, semangat tersebut bukan berarti membenci bangsa atau kelompok masyarakat dari negara lain. Namun, menurutnya, masyarakat Indonesia harus memiliki keyakinan bahwa budaya, kearifan lokal dan kemampuan masyarakat sendiri memiliki nilai yang tinggi.


“Mohon maaf, kata-kata pribumi itu harus kita bangkitkan kembali. Bukan untuk membeda-bedakan, tetapi sebagai penyemangat. Jangan sampai kita terus ditekan,” ungkapnya.


Riyanta juga mengajak masyarakat untuk tidak minder terhadap pengaruh budaya maupun kekuatan ekonomi dari luar negeri.


“Jangan kita minder kalau orang Cina, jangan kita minder kalau orang Londo. Kita itu lebih hebat,” katanya.

Ia menegaskan, pernyataan tersebut bukan bentuk kebencian terhadap masyarakat Arab, Barat maupun Tiongkok.


“Ini bukan berarti saya benci dengan Arab, dengan Londo, dengan Cina. Bukan. Tapi mari kita sadar diri bahwa orang Indonesia, orang Jawa, atau masyarakat adat di seluruh Indonesia itu lebih hebat,” tegasnya.


Menurut Riyanta, kekuatan masyarakat lokal dan kearifan budaya harus menjadi modal penting dalam menjaga lingkungan sekaligus membangun masa depan bangsa.




Gerakan Harus Konsisten

Riyanta kembali mengingatkan agar gerakan masyarakat tidak berhenti pada momentum tertentu. Ia meminta para aktivis tetap konsisten mengawal persoalan yang menyangkut kepentingan publik.

Ia juga menyinggung sejumlah persoalan perizinan dan pengelolaan sumber daya alam di Jawa Tengah, termasuk persoalan yang menurutnya terjadi di wilayah Kudus.


“Perizinan sumber daya di Kudus itu sudah dua tahun tidak selesai. Ini fakta,” ujarnya.


Riyanta mengatakan, perjuangan masyarakat dalam mengkritisi persoalan lingkungan maupun kebijakan pemerintah tidak semestinya dianggap sebagai tindakan negatif.


Ia mencontohkan ketika dirinya bersama sejumlah pihak mempersoalkan persoalan di Jawa Tengah. Menurutnya, kritik tersebut dilakukan karena ada persoalan yang memang perlu dibuka dan dikawal secara bersama-sama.

“Dikira kita itu jahat, padahal itu fakta,” katanya.


Di akhir pernyataannya, Riyanta berpesan agar gerakan masyarakat tetap menjaga integritas. Ia mengingatkan jangan sampai perjuangan yang awalnya untuk kepentingan rakyat justru berubah menjadi kepentingan pribadi atau kelompok.


“Makanya hanya dengan gerakan-gerakan seperti ini. Tapi jangan ada pengkhianatan, jangan ada yang mengkhianati,” pungkasnya.


Riyanta juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga budaya dan kearifan lokal. Baginya, kekayaan budaya Indonesia merupakan kekuatan yang harus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


“Jangan kita minder. Mari kita sadar diri bahwa orang Indonesia, orang Jawa, atau masyarakat adat di seluruh Indonesia itu lebih hebat,” tandasnya.

( Redaksi: EW)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HUT SUARAKPK Ke 9 (2018)