BLORA, suarakpk.com - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Blora melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA) tengah gencar lakukan kegiatan operasi dan pemeliharaan (OP) jaringan irigasi.
Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPR Blora, Ir. Surat, S.T., M.T. menjelaskan "langkah ini diambil guna memastikan infrastruktur irigasi berfungsi optimal dalam melayani kebutuhan air untuk petani di wilayah kabupaten Blora," jelas Surat.
Lebih lanjut Surat selaku kepala bidang (kabid) menjelaskan, bahwa saat ini, Pemkab Blora mengelola daerah irigasi teknis seluas kurang lebih 13.351 hektare lahan sawah, Potensi produksi padi dari luasan tersebut diperkirakan mampu mencapai 80.106 ton per musim tanam.
Kegiatan pemeliharaan rutin ini merupakan bentuk dukungan nyata Pemkab Blora terhadap target nasional dan daerah, antara lain:
Inpres Nomor 2 Tahun 2025 : Menyukseskan Proyek Strategis Nasional (PSN) terkait percepatan pembangunan, rehabilitasi, serta OP jaringan irigasi.
Visi Misi Kabupaten Blora 2025-2029 : Mewujudkan visi "Sesarengan Mbangun Blora Maju dan Berkelanjutan", khususnya Misi Ke-1 (pemerataan infrastruktur berkualitas) dan Misi Ke-3 (peningkatan produktivitas sektor pertanian).
Strategi Kolaborasi di Tengah Keterbatasan Dana
Meskipun dihadapkan pada tantangan pengurangan dana transfer (TKDD) dari pemerintah pusat, komitmen DPUPR Blora dalam mengelola jaringan irigasi tidak surut.
Dinas menerapkan inovasi berupa kolaborasi pendanaan dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Pada tahun 2025, Kabupaten Blora berhasil menyelesaikan program Inpres Irigasi dengan sangat baik. Atas keberhasilan menjaga kondusivitas wilayah dan penyediaan tenaga kerja lokal, Pemerintah Pusat memberikan apresiasi positif berupa tambahan alokasi anggaran Inpres Irigasi, dari yang semula Rp9,9 miliar menjadi Rp10,8 miliar.
Selain itu, dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mengalir melalui pembangunan Embung Karangjati di Kecamatan Blora senilai Rp8,5 miliar. Embung berkapasitas 67.998 ini diproyeksikan mampu mengairi 40 hektare sawah, sekaligus berfungsi sebagai sarana konservasi air dan pengendali banjir kota.
Pemberdayaan Masyarakat Lewat Padat Karya
Inovasi lain yang diterapkan dalam pemeliharaan irigasi ini adalah pelibatan aktif masyarakat tani, Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A/GP3A), serta pekarya saluran melalui sistem Padat Karya Tunai (PKT).
Sistem gotong royong ini memastikan jaringan irigasi tetap terawat sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga.
Masyarakat kecil yang terlibat langsung menerima upah, yang terbukti efektif menekan angka pengangguran dan mendongkrak kesejahteraan di tingkat tapak.
Melalui sinergi ini, setiap anggaran pembangunan terbukti memberikan manfaat nyata bagi perekonomian Kabupaten Blora. Sebagaimana tagline "Banyu ono petani mulyo" dan "Banyu mili petani mukti."
(krb/red02)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar