Batu Bara, suarakpk.com - Dinas Pendidikan (Disdik) bersama Komisi III DPRD Kabupaten Batu Bara turun ke sekolah SMP Negeri 2 dan SD Negeri 18 Medang Deras Kabupaten Batu Bara Sumatera Utara Selasa 02/01/2021.
Hal itu dilakukan guna menyerap aspirasi para guru terkait sistem pembelajaran jarak jauh (pjj), daring dan luring dampak dari Pandemi Covid -19,
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Batu Bara Ilyas Sitorus SE M.Pd didampingi Kasi Susilawati S.Pd mengatakan, pihak nya sengaja membawa Komisi III turun ke sekolah guna mengetahui kendala yang dihadapi para guru juga siswa.
" Karena memang bidang nya, Kita sengaja mengajak Komisi III turun ke sekolah, tujuan nya agar komisi III mengetahui langsung kendala maupun keluhan para guru pada saat mengajar di masa Covid-19 inii, dan yang kami datangi SMP Negeri 2 dan SD Negeri 18 Medang Deras" kata nya.
Ketgam : Sebelum acara, Kadisdik Ilyas Sitorus SE M.Pd saat mengisi buku tamu di SMP Negeri 2 Medang Deras.
Kepada wartawan, Kepala UPTD SMP Negeri 2 Medang Deras Maslina Sinaga S.Pd diruangannya mengatakan, kami dari saya pribadi kepala sekolah dan rekan-rekan guru menyampaikan aspirasi aspirasi yang disampaikan kepada bapak Kadis, kepada bapak ketua komisi 3 DPRD Batu Bara juga untuk diteruskan ke dewan yang lain untuk di follow up bahwa kami memang sudah berupaya melaksanakan kegiatan pjj-nya dengan sebaik mungkin lah, artinya kami melaksanakannya secara daring dibantu juga anak-anak yang tak terkoneksi dengan internet kami buat daring, kami sediakan bahan ajar nya, kemudian kami juga melakukan home visit kunjungan ke rumah-rumah.
Lanjut nya, namun walaupun sudah Begitu pun kami lakukan tetap saja tidak bisa lah berlangsung hasil 100%, tetap aja nya ada kendala, apalagi kita kan anak-anak kita banyak di wilayah pantai, orang tuanya pun melaut orang tuanya pun kerjanya istilahnya serabutan, anaknya pun kadang dibawa kerja karena tak sekolah ini jadi kadang kita belajar dari ini, ada juga beberapa anak yang ikut bantu orangtuanya juga terjadi, kita tak fokus dia sekolah jadi kendala jadi nya, tetap juga tadi kami sampaikan.
Harapan kami ya kalau bisa sudah kembali aja lagi tatap muka, kemarin sempat 3 minggu tetap buka, menurut saya itu jauh lebih baik daripada kegiatan-kegiatan dari kita ini, jadi harapannya begitu, kalau kita Buatlah mungkin ada beberapa sekolah yang berinisiatif membuat pertemuan di luar, dibuat pakai pertemuan, banyak juga dalam satu ruangan, jangan-jangan protokoler kesehatan yang bagus di sekolah daripada di luar, itu kan di rumah-rumah penduduk Jadi apalah salahnya toh akhirnya masyarakat meminta untuk begitu nya.
Juga kondisi masyarakat kita ini mungkin beda sama di kota, kalau di kota daring bisa Bagus pulsa internet gitu, tapi kalau di tempat kita ini sudah semaksimal, mungkin kita upayakan Bagaimana supaya kita bisa kembali bisa tatap muka, mungkin nanti kita akan kek mana lah komunikasi dengan orang tua murid supaya bisa bantu kita lah supaya kegiatan daring dan luring ini bisa banyak dibantu orang tua sehingga hasilnya bisa lebih meningkat lagi.
Ketgam : kegiatan di UPTD SMP Negeri 2 Medang Deras.
Menurut Maslina, apabila diberlakukan belajar tatap muka ini, pihak nya sudah mempersiapkan anjuran pemerintah tentang protokol kesehatan dengan menyediakan face shield segala macam.
" Face shield dan masker itu sudah ada kemudian hand sanitizer sudah ready kemudian kursi kursi di kelas itu sudah kita Tandai mana yang diduduki mana yang tidak ada ya sudah kita atur, tempat cuci tangan sudah ada Jadi saya pikir itu sudah cukup mempersiapkan diri kemudian juga kita ada UKS kita sediakan obat-obatan kemudian kita juga udah kerja sama jalin komunikasi dan koordinasi dengan Puskesmas setempat untuk Penjaringan misalkan ada anak yang sakit" tutur nya.
3 minggu itu kemarin sudah sempat kita laksanakan dan kita patuhi protokoler kesehatan kayaknya nggak ada kendala, tidak ada kendala karena kita pakai ship kan?, duduknya juga berjarak begitu, tapi karena aturan turun dari atas menyuruh kita untuk kembali untuk Belajar Dari Rumah (BDR) lagi, ya kalau suara hati kita, kita pengennya balik toh kita bisa mengupayakan semaksimal mungkin protokoler persiapan kita jalankan.
Kepala UPTD SMP Negeri 2 juga menjelaskan setiap tiang kelas ditetapkan 16 siswa, Iya karena 32 orang kan satu kelas, kemudian keluhan yang lainnya yaitu anak-anak jadi semakin tidak terkontrol belajarnya karena mereka juga kan kerja jadi nggak bisa juga mereka nganter anaknya, di rumah belajar dan handphone itu juga apa namanya mereka juga anak-anak ada juga yang tidak punya handphone jadi dia pakai handphone orang tua, orang tuanya bekerja Handphone tadi dibawa sehingga nunggu orang tuanya pulang kerjalah dulu baru bisa dia beraktivitas pembelajaran daring, tadi itu jadi kendala juga yang diperlukan orang tua, tapi kalau untuk sebagian ada sekitar 30% Ya itu tadi Pak, karena banyak orang tuanya kan yang bekerja Ini anaknya juga ikut dibawa, Sebagian ada juga yang dibawa anaknya itu bekerja juga itu akhirnya tak fokus lagi sekolah.
" Artinya di sekolah kita ini hanya 30% yang menggunakan Android, Android apa namanya kalau secara global ya secara global itu dalam 32 siswa itu, 10 siswa yang yang biasanya, saya nggak bilang nggak ada Android layar, saya bilang mungkin mereka punya handphone tapi tidak terkoneksi internet, sekitar 20% paling banyak yang tidak terkoneksi internet, biasanya itu yang kita cover dengan pakai modul bahan ajar, tadi bahan luring itu mereka jemput biasanya, setiap hari Senin seminggu sekali mereka jemput itu khusus yang tidak pakai tidak terkoneksi internet, tapi kalau yang terkoneksi internet pakai wa pakai Zoom meeting pakai Google classroom dari situ mereka belajarnya begitu lagi" jelas Maslina.
Sementara, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Batu Bara Ahmad Mukhtas mengatakan, pihak nya melakukan monitoring dan evaluasi setelah 11 bulan berjalan sistem belajar jarak jauh atau dengan program daring dan luring di masa pandemi Covid-19, dan sampai sejauh mana terealisasi dan kendala yang dihadapi.
“Ketika ada kendala, bagaimana mencari solusi terhadap kendala yang dihadapi dalam proses belajar mengajar di pandemi Covid -19”, kata nya.
Menurut Amat Muktas, dampak daripada pandemi covid-19 terhadap dunia pendidikan ini dirasakan bukan saja di Kabupaten Batu Bara tetapi bahkan seluruh dunia dan bagaimana upaya untuk memperkecil dampak tersebut dan diri nya khawatir anak didik akan terjebak kepada sebuah persoalan baru, baik lem ataupun narkoba, ini harus menjadi perhatian semua pihak.
Dia juga mengatakan, satu inisiatif dari Komisi III untuk berkomunikasi dengan pihak guru dan kepala sekolah mengambil data serta masukan dan kendala, dari data tersebut mungkin ada yang luput dari sistem pembelajaran.
Ketgam : Dari kanan, Kadisdik Ilyas Sitorus SE M.Pd, Kedua Komisi III DPRD Batu Bara Amat Muktas dan Kasi Disdik Susilawati S.Pd saat di UPTD SD Negeri 18 Medang Deras Selasa 02/01/2021.
Setelah melakukan monitoring di UPTD SMP Negeri 2 Medang Deras, Kadisdik bersama rombongan menuju SD Negeri 18 Medang Deras.
Saat di SD Negeri 18, Kadisdik dan Komisi III juga banyak menerima saran, kendala dan pendapat juga keluhan para guru ketika memberikan PJJ, daring dan luring di masa pandemic Covid-19.
K3S Medang Deras Hatta Siregar S.Pd yang juga Kepala UPTD SD 18 mengatakan Komisi III DPRD Batu Bara didampingi Kadisdik ingin bertemu langsung dengan para guru-guru guna menyerap aspirasi terhadap proses pembelajaran jarak jauh serta daring dan luring dalam rangka bagaimana menghadapi sistem pengajaran di waktu pandemi Covid-19, sehingga dengan demikian Kadisdik dan Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Batu Bara mengetahui secara langsung kendala-kendala di lapangan.
" Semoga Pandemi Covid-19 ini cepat kapan berakhir” tutup nya.
Ketgam : saat acara pertemuan Kadisdik, Komisi III dengan para guru di SD Negeri 18.
Sekedar diketahui, saat ini seluruh sekolah yang ada di Kabupaten Batu Bara melaksanakan pembelajaran jarak jauh, daring juga luring.
(575)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar