YOGYAKARTA, suarakpk.com -Kraton Yogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Tradisi Gunungan Grebeg Syawal 1444 Hijriah atau Lebaran Idul Fitri 2023 di Halaman Masjid Gede Kauman Yogyakarta. Sabtu (22/04/2023)
Tradisi Grebeg Syawal dengan membagikan Gunungan kepada warga masyarakat yang diselenggarakan Kraton Yogyakarta ini merupakan tradisi tahunan setiap Bulan Syawal atau pada saat perayaan Hari Raya Idul Fitri. Penyelenggaraan Gunungan Grebeg Syawal ini dimulai sesaat setelah Sholat Idul Fitri.
Prosesi iring-iringan Bregada Prajurit yang mengawal 7 Gunungan yang terdiri dari 5 jenis antara lain :
1,Gunungan Kakung 2,Gunungan Estri/Wadon 3,Gunungan Gepak 4,Gunungan Darat dan 5,Gunungan Pawuhan.
Gunungan dibawa dari Bangsal Pancaniti, Kamandungan Lor oleh Abdi Dalem Kanca Abang melalui Regol Brajanala Sitihinggil Lor Pagelaran menuju Masjid Gede Kauman Yogyakarta untuk didoakan dan diperebutkan warga masyarakat.
"Gunungan Grebeg Syawal ini ada 7 gunungan, yang 5 gunungan di bawa ke Masjid Gede Kauman, untuk 1 gunungan dibawa ke Kepatihan atau Kantor Gubernur, sedangkan 1 gunungan lagi dibawa ke Puro Pakualaman. Untuk yang dibawa ke Pakualaman dan Kepatihan hanya Gunungan Kakung saja, sedangkan yang komplit disini, di Masjid Gede Kauman", ucap Muhammad Abror salah satu Abdi Dalem Kraton Yogyakarta saat dikonfirmasi di lokasi acara.
Abror menuturkan untuk arak arakan gunungan sendiri dikawal oleh 10 Prajurit Kraton Yogyakarta, sedangkan untuk gunungan yang dibawa ke Pakualaman dijemput sendiri oleh Prajurit dari Puro Pakualaman.
Terpantau dilokasi, ribuan masyarakat tampak begitu antusias menyaksikan tradisi arak arakan gunungan tersebut, mereka datang bukan hanya dari wilayah Jogja saja, namun banyak juga yang datang dari luar Wilayah Yogyakarta.
Warga masyarakat antusias berebut Uba rampe Gunungan Grebeg Syawal berupa hasil bumi yang dipasang melingkar pada gunungan, macam kacang panjang, cabai merah, salak, duku, ubi, jambu dan lain sebagainya, ada pula makanan berupa wajik, ketan, rengginang, kue bendul, juga telur asin.
"Saya baru pertama kali melihat gunungan ini, ya sama dengan masyarakat yang lain ingin ngalap berkah (mendapat berkah) ikut rebutan ambil isian dari gunungan Syawal itu mas", ucap Parjiyo salah satu warga dari pengasih Kulonprogo.
Sementara itu KRT Rinta Iswara, selaku Penghageng II Kawedanan Nitya Budaya menjelaskan bahwa istilah Garebeg atau yang umumnya disebut Grebeg berasal dari kata "GUMREBEG" (bahasa jawa) mengacu kepada deru angin atau keramaian yang ditimbulkan pada saat berlangsungnya upacara tersebut.
"Gunungan merupakan perwujudan Kemakmuran Kraton atau pemberian dari raja kepada rakyatnya. Jadi makna Grebeg Sawal secara singkatnya adalah *perwujudan rasa syukur akan datangnya Idul fitri*, yang diwujudkan dengan memberikan rezeki pada masyarakat melalui ubo rampe gunungan yang berupa hasil bumi dari Tanah Mataram", tutupnya. (gianto/red)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar