GROBOGAN, suarakpk.com – Sejak awal berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1912 oleh KH.Ahmad Dahlan, telah berpendirian bahwa manusia akan mencapai kesempurnaan iman dan taqwa manakala ia memiliki kedalaman ilmu pengetahuan dan agama yang baik. Berangkat dari landasan theologis inilah ilmu agama dan ilmu pengetahuan dunia atau umum hendaklah dipelajari tanpa dikotomi berarti dan mesti berhasil disatupadukan secara baik, meskipun diakui methodology pembelajarannya mengadopsi style pendidikan bergaya Belanda saat itu dan pondok pesantren yang saat itu pula lebih dahulu berjalan di negeri Nusantara ini.
Oleh karena itu sangat patut diharapkan tercetaknya generasi yang utuh sebagai "Intektual Ulama dan Ulama Intektual" itu cukup berhasil sekaligus sebagai penghindaran pelakunya dari "split personality" agama akan lebih terwujud.
Sekilas gambaran ini sangatlah nampak tercermin dari keberadaan managemen persyarikatan dan tata kelola lembaga- lembaga pendidikan yang dimiliki dimanapun, termasuk SMU Muhammadiyah Purwodadi - Grobogan Jateng.
Kepada media suarakpk, Kepala SMA Muhammadiyah Purwodadi Drs.Jaelani, mengatakan bahwa SMA Muhammadiyah Purwodadi, berhasil membangun sinergi dengan beberapa pihak dalam penyiapan generasi muda siap pakai.
"Tantangan bagi generasi muda ke depan lebih berat, selain dibutuhkan sumber daya manusia yang handal dan profesional dalam bidang kerjanya masing-masing juga dituntut sebagai kader Madany, generasi Rabbani, penggerak perwujudan negara, bangsa yang berperadaban dan berkebudayaan", katanya.
Lebih lanjut Jaelani menjelaskan, bahwa bangsa Indonesia selain butuh orang pintar, juga butuh orang yang beradab. Menurutnya, tanggung jawab ini menjadi cita-cita besar, yang dipikulkan kepada lembaga pendidikan sebagai bagian dari agen perubahan.
“Ini bukan rethorika belaka, sebab sekarang kita butuh percepatan proses agar output sesegera mungkin tercetak. Kita merasakan adanya krisis SDM yang akut, terutama di bidang akhlak," jelasnya.
Saat ditanya mengenai style pendidikan yang berorientasi pada idealisme dan cita-cita besar persyarikatan itu, Jaelani mengaku bahwa lembaganya telah mempersiapkannya, dari sarana prasarana yang maximal dan design kurikulum yang disempurnakan, dikatakannya, bahwa hal tersebut harus bisa dipercaya, karena Muhammadiyah telah membidangi sejak berdirinya.
Jaelani mencontohkan, seluruh kelas yang dimiliki telah ber-AC (air conditioner), LCD-Proyektor sebagai sarana proses belajar mengajar, CCTV sebagai sarana pengawasan dan pengamanan dan ditambahkan lagi yang kelas khusus diberikan lantai berkarpet untuk menambah kenyamanan peserta didik dalam proses PBM.
Lebih lanjut, Jaelani menandaskan, bahwa selain fasilitas yang berupa sarana prasarana Lembaga Pendidikan tersebut, Sekolahnya juga telah membangun atau memadu kurikulum Kemendiknas dengan design kurikulum Lembaga yang berbasis spiritual, sehingga masyarakat akan semakin yakin untuk mengamanatkan putra-putri kepada sekolah.
“Kami menambahkan adanya materi tahsin membaca alquran dan tahfidz alquran di dalam kelas masing-masing anak. Efektivitas program ini cukup baik dalam membentuk, mensuasanakan dan mengkondisikan mental peserta, karena dilakukan secara gradual dan berjamaah. Program ini tidak terasa membebani, karena disampaikan secara serius namun menyenangkan, dan diampu oleh ustadz yang khusus kita datangkan dari Ma'had Tahfidhul Qur'an,” tandasnya.
Lebih lanjut, Jaelani mengungkapkan, bahwa dalam rangka membekali ketrampilan anak didik, sekolahnya juga telah menyiapkan program bahasa Korea. Menurut Jaelani, bahwa hal tersebut dilakukan, seiring dunia kerja yang berpangsa regional, transnasional sampai international.
“Kami sungguh-sungguh pula dalam hal ini. Maka kita bekerja sama dengan sebuah lembaga pelatihan bahasa, ketrampilan dan budaya negara Korea ke salah satu LPTK Korea kenamaan di kota ini,” ungkapnya.
Ditegaskan Jaelani, bahwa dirinya sungguh serius dibalik keprihatinan atas merosotnya kwalitas pendidikan secara umum bangsa ini, diakui atau tidak, sehingga tidak berlebihan lanjutnya, bila ke depan Muhammadiyah berharap ada peningkatan grafik jumlah peserta didik baru hingga 300 peserta.
“Sedang saat ini kami mengelola anak sejumlah 510 siswa yang terdiri dari 203 siswa kelas X, 198 siswa kelas XI dan 109 siswa kelas XII dengan sejumlah guru yang membidangi di mapelnya sejumlah 35 tenaga pengajar,” ujarnya.
Dikatakan Jaelani bahwa setelah pandemi covid-19 berakhir, seluruh fasilitas dan layanan yang tersedia di sekolahnya bergerak efektif, karena semua telah berjalan dan disempurnakan.
Selain itu, di SMA Muhammadiyah Purwodadi bersama dengan lembaga setara milik persyarikatan oleh Bidang Pengembangan Pendidikan Tinggi PDM Kabupaten Grobogan sekarang telah dibukakan Institut Teknologi Bisnis Muhammadiyah Grobogan (ITB MG).
“Semoga semua pihak dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya. (Noor/red)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar