Benarkah Ini Pertanda Alam? Garis Awan Unik Di Atas Merapi - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


04 June 2018

Benarkah Ini Pertanda Alam? Garis Awan Unik Di Atas Merapi


YOGYAKARTA, suarakpk.com - Pagi ini admin bersepeda ke Kali kuning, tiba-tiba pukul 08.00 muncul, ada awan yang unik berbentuk garis horizontal panjang di atas merapi selama 15 menit. Sebelumnya didahului awan halus vertikal seperti menyebar keluar dari belakang puncak Merapi.
Dan tanpa sengaja membaca sebuah tulisan awan yang ditulis oleh pemilik akun FB Tifauzia Tyassuma pada hari Sabtu, (02/6).

Belum tentu yang ditulis sesuai keilmuan tetapi hanya sebatas admin kebetulan membaca tulisan dan ketika membaca beberapa referensi nya ada tersebut ada bencana yang terjadi didahului muncul fenomena awan aneh. Memang dalam ilmu pengetahuan tidak berarti ada awan bencana. Hanya ada local wisdom masyarakat menghubungkan antara awan horizontal dengan adanya bencana, mungkin itu hanya mitos.

Kita tahu sampai dengan saat ini belum ada teknologi yang memprediksi kapan terjadi gempa dan dimana lokasi nya. Bagi yang faham dan belajar di bidang ilmu bumi bisa berbagi. Semoga aman aman saja, kita semua dihindarkan dari bencana, marabahaya dan diberikan perlindungan.

Berikut tulisannya yang terangkum dari berbagai suber berjudul,
Awan Chirostratus, Awan Gempa
Oleh : Tifauzia Tyassuma

Gunung Merapi Jogjakarta, adalah gunung modern paling aktif di dunia. Beberapa minggu setelah terjadi hujan besar di tanah jawa (hujan tidak biasanya karena bulan Mei seharusnya awal musim kemarau di Indonesia), gunung berbahaya ini menyemburkan beberapa kali lava dan awan panasnya ke udara, membuat Yogyakarta kota rawan gempa ini mengalami gelap gulita di siang benderang, tertutupi asap semburan gunung Merapi.

Beberapa hari saya mengamati dalam beberapa timeline teman-teman yang tinggal di Jogja, mulai mengcapture gambar awan yang tidak biasanya, dan fenomena awal tidak biasanya ini sudah terkonfirmasi banyak Ilmuwan sebagai awan gempa, bahkan sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu (Varahamihira, 505M).

Saya tergerak untuk menuliskan hal ini di pagi hari yang teduh ini, karena selaku praktisi ilmu yang bergerak di ranah preventif, dimana prediksi atas berbagai fenomena sebelum kejadian merupakan bagian dari sikap sehari-hari.

Namun tulisan ini hendaknya dibaca bukan untuk menimbulkan kehebohan atau kekhawatiran yang tidak perlu, namun untuk menstimulasi pembaca agar tanggap terhadap sasmita yang diberikan oleh alam, sebagai bagian dari interaksi manusia dengan lingkungan (human environment interaction) yang sangat natural.

Awan chirrostratus atau awan gempa, berbentuk memanjang horisontal dan atau vertikal seperti ekor atau surai kuda, dalam bahasa lokal disebut awan jabrik, telah dibahas sejak abad ke 6 oleh Ilmuwan India, Varahamihira (505 - 587) dalam buku karyanya Brihat Samhita, dimana beberapa tanda-tanda alam akan datangnya gempa melanda dimulai dari awan chirostratus, diikuti oleh perilaku aneh bintang-binatang yang tidak biasanya, dan tanda-tanda alam yang tidak seperti biasanya, seperti hujan salam musim (udan salah mangsa), yang kemunculannya secara beruntun terjadi seminggu atau beberapa minggu sebelum terjadi gempa.

Seorang Ilmuwan asal Cina yang bermukim di Amerika Serikat, Zhonghao Shou, di tahun 1990 telah membuat serangkain penelitian berdasarkan fenomena alam awan chirostratus tersebut, berdasarkan penelitiannya terhadap 36 fenomena awan jabrik tersebut, 29 di antaranya terkonfirmasi terjadi gempa, artinya dari 8 dari 10 awan jabrik mengonfirmasikan terjadi gempa di beberapa minggu setelah kemunculannya.

Shou menambahkan bahwa dugaan terjadinya gempa semakin kuat apabila awan jabrik bergerak memanjang dengan ekor mengarah ke barat laut.

Peristiwa yang terkait dengan gempa yang terjadi dalam kurun waktu 13 tahun di dunia, dari gempa di Kagoshima tahun 1993, Kobe Jepang tahun 1995, Niigata tahun 2004, hingga gempa dahsyat Yogyakarta tahun 2006, menunjukkan bahwa kemunculan awan jabrik tersebut beberapa minggu sebelum peristiwa berlangsung menjadi tanda awal yang muncul dengan jelas.

Pada tahun 1622, ketika terjadi gempa besar yang mengguncang provinsi Ningxia Cina barat, awan jabrik muncul beberapa saat sebelum gempa melanda.  Tahun 1978 di Kyoto  Jepang, muncul awan serupa yang dilihat oleh walikota waktu itu, sehingga disebut awan Kagida.

Di tahun 1994, awan seperti roket muncul di Northride Amerika Serikat, dan dua minggu setelahnya terjadi gempa besar di sana. Di tahun yang sama, awan yang digambarkan berbentuk bulu ayam muncul di Northern California US, dan dua hari kemudian gempa besar melanda.

Awan berbentuk berkas sinar dilaporkan muncul di Joshua Tree US,  tahun 1996, dan 23 hari kemudian terjadilah gempa besar.
Desember 2003, muncul awan jabrik di langit Bam, Iran, diikuti gempa besar empat hari setelah kemunculannya.

Pelajari tentang awan sebagai tanda-tanda pada Al Quran:
QS 46:24
QS 35:9
QS 24:43
QS 24:40
QS 30:48
QS 2:164

Tulisan dirangkum dari Wikipedia (2018)
Shou, Z (2010) Earthquake Vapor Model and Precise Prediction
Harrington and Shou (2005) Bam Earthquake Prediction & Space Technology. Journal: Seminars of the United Nations Programme on Space Applications. Selected Papers from Activities Held in 2004. United Nations, New York, 2005.
Shaumitra Mukherjee, 2006. Earthquake Prediction.
(Red)

No comments:

Post a Comment