Asrun Tersangka, Sahrul Sebut Tim Rusda Kepedean Ketimpa Durian Jatuh - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


04 March 2018

Asrun Tersangka, Sahrul Sebut Tim Rusda Kepedean Ketimpa Durian Jatuh


MUNA BARAT, suarakpk.com - Mengamati konstelasi politik pasca penangkapan Asrun, salah satu calon gubernur Sulawesi Tenggara periode 2018-2023, tim-tim pasangan calon Rusda Mahmud-Sajafey Kahar mulai gencar membangun opini di media ihwal alternatif arah dukungan para simpatisan Asrun-Hugua.

Sahrul, juru bicara tim sahabat ARF For AMAN menilai sikap politik yang ditunjukan oleh tim Rusda-Sjafey ini tidak sama sekali menunjukan sikap politik yang humanis dan cenderung pragmatis.

 "Seharusnya mereka lebih mendahulukan sikap keprihatinan, tapi rupanya mereka ini memanfaatkan musiba yang dialami oleh Asrun demi kepentingan politik calonnya," kata Sahrul melalui pesan Whatsap yang dikirim kepada wartawan, Minggu 4 Maret 2018.

Kendati Asrun menjadi rival politik bagi semua calon gubernur, tapi dalam konteks ini kata Sahrul, ada sisi kemanusiaan yang harus di dahulukan. Tapi, faktanya mereka malah ramai-ramai membangun opini bahwa simpatisan Asrun-Hugua bakal mengarahkan dukungan ke Rusda-Sjafey. Hal ini bisa saja memunculkan kecurigaan bahwa ada aktor yang bermain dalam kasus bekas wali kota Kendari 10 tahun itu.

Alasannya, kata dia, postingan-postingan di sosial media menggambarkan kesenangan pasca penangkapan Asrun. "Mereka ini kepedean, dan merasa seperti ketimpa durian jatuh. Biar tajam durinya tidak masalah yang penting isinya manis. Kira-kira begitu pukiran mereka saat ini," ujar mantan aktivis Makassar ini.

KPK resmi menetapkan Asrun dan putranya ADP sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan Jembatan Bungku Toko Kendari. Asrun dan ADP langsung di tahan bersama seorang pengusaha Direktur Utama PT Sarana Bangun Nusantara (SBN), bernama Hasmun Hamzah, mantan Kepala BPKAD Pemkot Kendari Fatmawati Faqih dengan mengenakan rompi orange.
KPK melakukan OTT di Kota Kendari dan menemukan dugaan suap mencapai Rp 2,8 miliar. Dimana dalam buku yang ditemukan cair lebih awal Rp 1,3 miliar. Lalu bukti kedua Rp 1,5 miliar. Uang ini diduga kuat digunakan untuk biaya politik pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sultra 2018 ini.

Dalam politik menurut mantan jurnalis ini, harus mengedepankan etika dan sopan santun. Selain itu, lanjut dia, berpolitik juga harus dengan cara-cara yang mendidik dan proporsional. Maksudnya, tidak boleh memanfaatkan musiba orang lain untuk kepentingan tertentu. Dia mencontohkan, penahanan Asrun menjadi bijak  bagi masyarakat Sultra untuk menyanpaikan rasa prihatin yang mendalam, termasuk tim Rusda-Sjafey.

Soal kemana arah dukungan para simpatisan Asrun-Hugua, tidak boleh digiring ke salah satu calon. Apalagi gerakan tim Rusda-Sjafey terkesan provikatif seolah-olah tim pasangan Ali Mazi-Lukman Abunawas (AMAN) tidak santun.

"Ini yang saya lihat di grup-grup sosial media. Dan soal arah dukungan, masih ada Hugua yang harus di dukung oleh simpatisan pasangan itu. Jadi, jangan terlalu banyak melamun untuk mendapatkan itu," ujarnya.

Sahrul juga mengimbau kepada seluruh masyarakat Sultra agar lebih mempertimbangkan calon yang memiliki niat baik untuk membangun daerah ini. Sebab, memilih gubernur adalah menentukan nasib rakyat dan daerah ini selama 5 tahun ke depan. Ukurannya tentu dilihat dari pengalaman memimpin dan rekam jejak mereka para calon gubernur.

 "Kalau modal pernah memimpin daerah kecil itu tidak cukup untuk menjadi gubernur," tutup Sahrul.(Randy)

No comments:

Post a Comment