Pemecatan Rajiun Menjadi Viral - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


22 February 2018

Pemecatan Rajiun Menjadi Viral


KENDARI, suarakpk.com - Pemecatan terhadap Ketua PAN Muna Barat LM Rajiun Tumada, kini menjadi viral.di media sosial bahkan media cetak dan online, selalu menjadi pembahasan kepada Bupati Muna Barat tersebut.

Jaringan Advokasi Kebijakan Publik (JARAK) Sultra, Sahrul secara tegas mengatakan, gemuruh para pencari kekuasaan dalam momentum pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Tenggara mulai membunuh logika rakyat setelah gagasan baik; menegakkan nilai-nilai demokrasi yang berakhir tragis.

Ketua PAN Muna Barat yang tak lain adalah Bupati Muna Barat L.M. Rajiun Tumada sang pemilik gagasan terbentuknya Satuan Tugas Anti Politik Uang (Satgas Money Politic) kini menjadi korban kezoliman orang-orang yang terkesan anti demokrasi-Adriatma Dwi Putra (ADP) menjadi buas dan mengusulkan pemecatan.

Sungguh ironi, langkah mendorong demokrasi bersiah yang mendidik rakyat tanpa politik uang justru dianggap sebagai ancaman oleh calon gubernur yang kerap membagi uang saat sosialisasi.

Rajiun kini di non aktifkan sebagai Ketua DPD PAN Muna Barat. Pemecatannya bukan karena tidak loyal terhadap partai melainkan ia mendorong terbentuknya Satgas Money Politic di seluruh wilayah kabupaten/kota sebagai bentuk komitmen mendorong proses demokrasi yang bersih sebagaimana ia telah memulainya saat pemilihan kepala daerah (Pilkada) Muna Barat 2 tahun lalu. Bupati Muna Barat ini membentuk pasukan operasi tangkap tangan (OTT) yang dikomandoi oleh Laode Rahmat Apiti dan sukses menangkap tim yang melakukan politik transaksional.

Gagasan terbentuknya Satgas Money Politic ini bermula atas kesuksesan pasukan OTT dalam Pilkada Muna Barat.

Terbentuknya Satgas Money Politik ibarat hantu yang benar-benar menakutkan ADP CS hingga menebar ancaman sampai dengan pemecatan kader partainya sendiri. Jika demikian adanya, maka ADP salah satu pejabat publik yang tidak paham soal bagaimana berdemokrasi yang baik dan cenderung mendukung money politik.

Hal ini juga dikuatkan dengan rumor kemenangannya saat ikut kompetisi pemilihan wali kota kendari yang lebih memilih strategi politik uang ketimbang strategi politik yang mendidik rakyat. Mental pemimpin seperti ini merupakan perpaduan antara kegilaan jabatan dan rusaknya moral karena tidak di dasari dengan kedalaman ilmu pengetahuan dan tidak memiliki rasa malu serta kehormatan.

Dengan demikian, ADP sebagai sekretaris DPW PAN Sulawesi Tenggara bisa menjadi awal kemunduran partai bentukan Amin Rais tersebut karena kontra dengan sistem demokrasi yang berlaku di negeri ini. Keputusan yang memecat Rajiun adalah hasrat kekuasaan yang anti demokrasi sehingga menjadikan dirinya (ADP Red) krisis kemuliaan dan surplus kehinaan karena tergolong pemimpin yang murkah.

Kekerdilan pengetahuan dan kedewasaan dalam berpolitik membuat lingkaran keluarganya berlomba mengejar kekuasaan dengan segala cara yang manipulatif termasuk berusaha melegalkan money politic. ADP menempatkan dirinya sebagai pemimpin inferior yang menggantungkan pengaruhnya pada kekuasaannya. Seharusnya dia (ADP) menjaga kewibawaan dan integritasnya sebagai pemimpin publik yang dewasa.

Pemecatan Rajiun bukanlah suatu bencana baginya, justru menjadi awal yang baik dalam menegakkan nilai-nilai demokrasi. Kezoliman yang dialami oleh deklarator Satgas Money Politic ini justru mendapat apresiasi dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat Sultra. Komitmen dan sikap tegasnya dalam melawan calon gubernur yang bermain uang siap dibekap oleh kekuatan elemen rakyat. Daerah ini harus diselamatkan dari calon pemimpin yang bermental korup yang menyensarakan rakyat. Sebab, kekuasaan yang diraih dengan politik uang sudah dapat dipastikan bakal mengabaikan kepetingan rakyat dan kekuasaannya akan digunakan untuk mengembalikan uang saat kompetisi. Setalah itu, akan memperalat kewenangan dalam rangka mengumpulkan pundi-pundi keuangan sebagai persiapan untuk maju pafa periode berikutnya. Inilah dasar mengapa Rajiun menganggap perlu adanya Satgas Money Poltic.

"Lebih baik kehilangan jabatan dari pada kehilangan kepercayaan publik. Sebab dalam politik, integritas lebih berharga daripada kekuasaan yang diraih dengan cara-cara kotor, "pungkasnya. (Randy)

No comments:

Post a Comment