Evaluasi Pendidikan Indonesia di Hari Guru Nasional. - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


25 November 2017

Evaluasi Pendidikan Indonesia di Hari Guru Nasional.


Gresik, suarakpk.com - Guru memang bukan orang hebat,tetapi semua orang hebat adalah berkat jasa dari seorang guru. Seperti pepatah arab yang mengatakan "Dengan berhidmat dan hormat kepada guru, ilmumu akan bermanfaat".

Banyak orang tidak pandai ketika dulu belajar disekolahan, tetapi karena waktu belajar hormat dan taat pada gurunya, maka ketika lulus ilmunya banyak yang bermanfaat dan barokah, sehingga dapat pekerjaan yang mapan dan lain-lain.

Akan tetapi sebaliknya, yang dulu waktu belajar disekolah, tidak mau hormat dan taat pada gurunya, begitu lulus sekolah, ilmunya tidak bermanfaat, bahkan hidupnya malah sengsara dan termarginalkan ditengah masyarakat padahal dulunya cerdas dan rangking terus.

Menurut seorang pemerhati pendidikan nasional, Prof. Dr. Kyai, M. Muzakkin, M.Pd.I, MH, 

bahwa tak satupun orang hebat di negeri ini tanpa pendidikan, dan tak satupun pendidikan di negeri ini yang tanpa peran guru. Dengan demikian berarti guru sebenarnya juga mempunyai peran penting terhadap perbaikan negeri ini.

"Hal itu karena fungsi guru disamping memberikan materi pelajaran, dan yang tak kalah pentingnya adalah bertugas mencetak karakter siswanya agar bisa jadi orang baik,sehingga kelak bisa sebagai penerus bangsa ini," katanya, Sabtu (25/11) di Pesatrennya.

Lebih lanjut dia menambahkan, baik dan buruknya sebuah bangsa ini tak lepas dari peran guru juga, berarti guru dituntut harus benar-benar disiplin, harus berkualitas ilmunya, harus bisa jadi figur, dan yang tak kalah pentingnya guru harus istiqomah ibadahnya.

"Sering tirakat, sering puasa, dzikir, dan tahajud untuk mendo'akan anak didiknya, agar kelak meraka menjadi insan yang sholeh dan sholihah, ketika lulus mampu berjuang di jalan Allah dan bisa memimpin negeri ini dengan cara yang amanah," ungkapnya.

Menurut Muzakkin, yang juga Ketua Pusat Badan Penyelamat Aset Negara Republik Indonesia(BPAN RI), bahwa yang di maksud guru harus disiplin adalah tidak boleh korupsi waktu, lebih-lebih korupsi uang negara, atau bantuan dari manapun, dan yang dimaksud berkualitas yakni guru harus mengajar sesuai profesi kesarjanaanya.

"Jangan ijizahnya biologi, tapi mengajar olah raga, ijazahnya matematika mengajar aqidah akhlaq dan lain-lain, itu namanya tidak berkualitas," tandasnya.

Kalau bahasa hukumnya, menurutnya itu masuk ranah pasal penyalahgunaan wewenang.

Dia menuturkan, Hari Guru Nasional janganlah hanya dijadikan sebuah rutinitas, tetapi harus dijadikan evaluasi diri terhadap kinerja seorang guru, sudah maksimalkah kinerja yang dilakukanya dengan menyandang gelar seorang guru. Itu yang seharusnya dijadikan renungan bersama agar pendidikan dinegeri ini tidak hanya maju secara lahiriyahnya saja, tapi ruh pendidikan ini juga bisa maju, agar keberadaan pendidikan benar-benar bisa dihandalkan, dan jadi sinar positif terhadap bangsa ini.

"Apalah artinya pendidikannya favorit, namun justru tiap hari hanya tawuran belaka, bahkan tidak sedikit yang sudah kecanduan narkoba," terang Muzakkin.

Lebih lanjut dia menambahkan, Hari Guru adalah hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru, dan diperingati pada tanggal yang berbeda-beda di setiap negara. Di Indonesia sendiri peringatan Hari Guru Nasional jatuh pada tanggal 25 November.

"Hari Guru Nasional bukan merupakan hari libur resmi, tetapi dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah dan pemberian tanda jasa kepada guru, kepala sekolah, dan perangkat sekolah lainnya," tegasnya.

Dia menerangkan, Hari Guru Nasional diperingati bersamaan dengan perayaan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Ini bermula atas perjuangan para guru Tanah Air melalui Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada 1912.

"Organisasi unitaristik ini beranggotakan para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah. Umumnya mereka bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua," ungkapnya.

Di masa yang sama, menurutnya berkembang juga organisasi guru dengan beragam latar belakang seperti keagamaan, kebangsaan, dan lainnya.

"Sekitar dua dekade, kemudian nama PGHB berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Penambahan kata Indonesia mengejutkan pemerintah Belanda. Pasalnya, kata tersebut mencerminkan semangat kebangsaan," tegasnya.

Dia mengungkapkan, kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dengan pihak Belanda. Secara bertahap, jabatan Kepala HIS (Hollandsch Inlandsche atau sekolah Belanda untuk bumiputera) mulai diambil alih orang Indonesia.

Akhirnya, lanjut Muzakkin terbitlah cita-cita kesadaran bahwa perjuangan para guru Indonesia tak lagi tentang perbaikan nasib maupun kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi memuncak menjadi perjuangan nasional.

Kemudian, ujarnya Pemerintah Jepang melarang semua organisasi dan menutup semua sekolah dan membungkam PGI Pada masa tersebut. Barulah setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, PGI kembali menggeliat.Kongres Guru Indonesia digelar pada 24–25 November 1945 di Surakarta.

Dia melanjutkan, para peserta kongres sepakat menghapuskan semua organisasi dan kelompok guru berlatar belakang perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku.

"Inilah cikal bakal bersatunya guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk," ungkapnya.

Mereka, tambahnya akhirnya meresmikan kelahiran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945. Dan sejak saat itu, pemerintah menetapkan hari lahir PGRI sebagai Hari Guru Nasional dan menjadikannya momentum penghormatan kepada para pahlawan tanpa tanda jasa di Tanah Air.

Kyai Muzakkin yang juga pengasuh pondok pesantren khusus rehabilitasi sakit jiwa,pecandu narkoba, mantan preman dan anak jalanan "Dzikrissyifa" Asma Berojomusti di Sekanor, Sendangagung, Paciran, lamongan, Jawa Timur ini mengatakan, Walaupun guru tidak tergabung dalam PGRI, semua orang yang dirinya telah mendarma baktikan untuk mengajarkan ilmunya pada anak didiknya baik itu di sekolahan formal maupun non formal, mulai dari TPQ, Madrasah ibtidaiyah, diniyah di pesantren-pesantren, yang mengajarkan kitab-kitab kuning, itu semua juga layak disebut seorang guru,karena telah turut mendidik anak bangsa ini.

"Walaupun mereka tidak berbaju korpri sekalipun, Selamat Hari guru nasional,jasamu sangat besar pada negeri ini,semoga Allah Swt,mencatat setiap langkahmu menjadi nilai ibadah, Amin," tutup Kyai Muzakkin. (Rahmat)(Muzakin / Rahmat)

No comments:

Post a Comment