6 Bulan Tidak Jelas, KPK Dan Polri Didesak Bentuk TGPF Kasus Novel - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


01 November 2017

6 Bulan Tidak Jelas, KPK Dan Polri Didesak Bentuk TGPF Kasus Novel





Jakarta, suarakpk.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih berkomunikasi dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) melalui Kepala Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Kapolda Metro Jaya) soal penyerangan Novel Baswedan demikian yang dikatakan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M. Syarif menyatakan pihaknya.
"Tetap dilangsungkan bahwa Kapolda memimpin langsung upaya pencarian itu. Ya mudah-mudahan dalam waktu tidak lama lah kami bisa menemukan," kata Syarif kemarin senin (30/10) di Jakarta, Senin.
Komunikasi informal sering terjadi antara Kapolri, Wakapolri, dan Kapolda Metro Jaya terkait perkembangan pengusutan kasus penyerangan Novel pada 11 April 2017 lalu itu.
"Komunikasi informal sering sekali terjadi antara Pak Kapolda, Pak Kapolri dan Pak Wakapolri. Info terakhir tentang Novel, mereka menemukan beberapa clue, tetapi belum dipresentasikan," ucapnya.
Terkait apakah diperlukan tim independen untuk mengusut kasus Novel itu, ia menyatakan bahwa belum menjadi opsi.
"Itu belum jadi opsi karena dilihat bahwa pihak Polri masih melakukan pekerjaannya. Menurut mereka kasusnya sulit tetapi mudah-mudahan pelakunya bisa ditemukan," demikian Laode M. Syarif.
Senada dengan Laode, Wakil Pimpinan KPK Saut Situmorang mengaku dirinya telah menawarkan diri dan kepolisian terbuka untuk kami masuk ke dalam.
"Kepolisian welcome kita masuk ke dalam, sejauh ini belum ada perubahan (informasi) yang signifikan. Saya sendiri menawarkan diri untuk masuk tim itu dan Polri juga welcome, jadi artinya semuanya terbuka kok, kita harus sabar karena ini kan kejahatan tidak gampang," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di gedung KPK Jakarta, Senin (30/10).
Sementara kabarkan, sejumlah mantan pimpinan KPK dan beberapa aktivis mendatangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi mendorong pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mengungkapkan pelaku kasus penyerangan penyidik senior KPK Novel Baswedan.
"Maksud kedatangan kami mantan pimpinan dan beberapa aktivis adalah pertama kami ingin melakukan komunikasi atau audiensi silaturahim dengan pimpinan KPK sekarang untuk membicarakan beberapa hal, di antaranya kita ingin mendorong pimpinan KPK sekarang untuk mengusulkan tim pencari fakta terhadap kasus Novel," kata Abraham Samad saat tiba di gedung KPK Jakarta, Selasa (31/10).
Menurut Abraham, KPK mengalami banyak serangan dari berbagai pihak sehingga seluruh mantan pimpinan KPK juga berkewajiban untuk membantu KPK.
"Ketika KPK mengalami hal-hal yang terpuruk maka di situ kewajiban (pimpinan) KPK untuk datang membantu, tidak terbatas kepada pansus tapi apa pun bentuk perlawanan secara eksternal KPK maka harus menjadi tanggung jawab segenap mantan pimpinan KPK," tegas Abraham.
Ditambahkannya, pembentukan TGF didasarkan pada lamanya penanganan kasus novel yang terlihat tidak ada penuntasan sehingga terkatung-katung.
"Kenapa (TGPF) ini perlu? Karena setelah waktu begitu lama, kasus Novel tidak ada penuntasan, dengan kata lain terkatung-katung. Ini bisa mengganggu keberadaan KPK. Kita berpikiran untuk mengusulkan kepada pimpinan KPK agar mengusulkan ke presiden pembentukan TGPF," tambah Abraham.
Sedangkan Duta Baca Najwa Shihab mengatakan sudah 200 hari, sudah lebih dari 6 bulan dan memang sudah sangat mendesak pembentukan ini, karena teror terhadap Novel Baswedan ini teror terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia.
"Kalau tidak salah ada 23-24 orang, tapi pada intinya kami merasa sudah 200 hari, sudah lebih dari 6 bulan dan memang sudah sangat mendesak pembentukan ini karena teror terhadap Novel Baswedan ini teror terhadap kita semua yang peduli terhadap pemberantasan korupsi di negeri ini. Jadi sangat urgent untuk segera dibentuk TGPF ini," tutur Najwa.
Terlihat mantan pimpinan KPK jilid III yaitu Abraham Samad, Busyro Muqoddas, Bambang Widjojanto, selain itu juga nampak Sekjen Transparansi Internasional Indonesia Dadang Trisasongko, peneliti LIPI Mochtar Pabotinggi, aktivis Allisa Wahid, Duta Baca Najwa Shihab, Direktur Amnesti Internasional di Indonesia Usman Hamid, Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati, mantan Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar dan sejumlah tokoh lainnya.
Novel pada Agustus 2017 lalu sudah melakukan operasi besar yaitu menggunakan gigi sebagai salah satu obat pengganti kornea mata kiri yang rusak ditambah plastik artifisial, sedangkan di bagian putih mata akan diganti dengan jaringan gusi.
Seharusnya pada Oktober ini ia kembali melakukan operasi besar, namun permukaan retinanya tidak rata. Kondisi bola mata kanan Novel masih baik dengan tekanan 17 sedangkan mata kiri tidak dapat dilakukan tes secara spesifik dan hanya diperiksa dengan menekan kelopak mata bagian atas karena tertutup gusi, namun diperkirakan tekanannya sedikit lebih tinggi dari mata kanan.
Dokter memberikan 2 macam obat tetes mata yang harus diberikan untuk menjaga tekanan bola mata. (Topan/effie)

No comments:

Post a Comment