Sering Ngamuk, Dua Tahun Welly Dipasung - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


16 October 2017

Sering Ngamuk, Dua Tahun Welly Dipasung


PURWOREJO, suarakpk.com - Akibat menderita gangguan jiwa, Welly Sutarno (30) warga Dusun Krajan RT 02 RW 01 Desa Girigondo Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo. terpaksa dipasung oleh keluarganya selama Dua tahun lebih. Keluarganya terpaksa memasung Welly karena yang bersangkutan sering ngamuk dan meresahkan warga sekitar. Selain pernah memukul sejumlah warga, juga pernah ngamuk di warung dan sering mengejar gadis-gadis. Sebelum dipasung, Welly kerap berkeliaran dengan telanjang bulat sehingga meresahkan warga, terutama para gadis.

Suroso (45), paman Welly mengatakan, pihak keluarga sebenarnya sudah berupaya membawa Welly berobat ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Magelang hingga tiga kali. Namun ketika obat habis Welly kambuh lagi penyakitnya bahkan lebih parah. Pihak keluarga sebenarnya ingin terus mengupayakan pengobatan tapi karena faktor ekonomi akhirnya tidak bisa berbuat banyak. "Orang tua Welly sudah lama berpisah, ayahnya kawin lagi dan ibunya merantau ke Semarang, " katanya.

Dikatakan, lantaran kondisi Welly semakin memprihatinkan dan sering mengamuk sehingga warga ketakutan, akhirnya atas kesepakatan keluarga Welly dipasung dengan cara dirantai di rumah kosong milik Suparmin, salah satu kerabat Welly. Ditempat itu disediakan tempat tidur dari kayu (dipan) dengan ukuran 2,5 x 1,5 meter. Sementara rantai sepanjang sekitar 2 meter yang mengikat kaki Welly dihubungkan dengan cor beton dan ditanam kedalam tanah. Untuk makan sehari-hari dikirim oleh kerabat dan tetangga dekat rumah pemasungan. "Keluarga terpaksa berbuat seperti itu karena perilaku Welly memang sudah membahayakan keselamatan warga, " kata Suroso.
Sementara Kepala Desa Girigondo Nur Sahid menjelaskan, pemasungan terhadap Welly sudah berlangsung sekitar dua tahun. Sedang Welly sendiri ditenggarai mengidap gangguan jiwa mulai tahun 2012. "Awalnya tidak begitu parah dan meresahkan lingkungan, namun dua tahun terakhir kelakuanya sudah mengganggu dan membahayakan warga sekitar sehingga terpaksa harus diikat rantai, "kata Nur Sahid disela-sela evakuasi Welly saat hendak dibawa ke RSUD Purworejo, Senin (16/10).

Diungkapkan, berdasarkan pengakuan keluarganya, penyebab sakitnya jiwa Welly saat dia dan ayahnya, Edi Supardi serta ibunya, Ngatiyah merantau ke Lombok untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Saat itu Welly baru saja lulus SMP. Setelah beberapa bulan di Lombok, ayah Welly mencalonkan diri menjadi kepala desa setempat. Untuk biaya pencalonan tersebut ayah Welly menjual semua warisan yang ada di Desa Girigondo. "Sayangya ayah Welly gagal menjadi kepala desa, padahal di sini sudah tidak punya apa-apa lagi, "kata Nur Sahid.

Entah karena malu atau alasan lain, ayah Welly enggan pulang ke Desa Girigondo dan memilih kawin lagi dengan wanita setempat. Harta benda habis, keluarga berantakan akhirnya Ngatiyah dan Welly pulang ke Desa Girigondo. Karena sudah tidak punya apa-apa lagi. Ngatiyah kemudian memutuskan bekerja di Semarang dan menitipkan Welly pada kerabatnya. "Nah sejak saat itulah kejiwaan Welly mulai terganggu dan perilakunya mulai aneh-aneh. Mungkin jiwanya tidak kuat melihat keluarganya brokenhome, "katanya.

Menurut Nur Sahid, atas bantuan pihak desa Welly rencananya akan dibawa ke RSUD dan RSJ untuk diupayakan pengobatan. Evakuasi Welly dihadiri perwakilan dari Dinas Sosial Kabupaten Purworejo, Puskesmas Karanggetas, dan perangkat desa setempat. Evakuasi Welly cukup memakan waktu karena gembok rantai pengikat kaki Welly sudah karatan sehingga tidak bisa dibuka dengan kunci dan harus dipotong menggunakan betel. Namun setelah sekitar 30 menit akhirnya rantai bisa terpotong dan selanjutnya Welly dibawa ke RSUD menggunakan mobil ambulan. (Daniel) 

No comments:

Post a Comment