Bacaan Al Qu r''an 30 juz Sambut Malam 1 Suro Warga Penaruban - SUARAKPK

BERITA HARI INI

Home Top Ad


21 September 2017

Bacaan Al Qu r''an 30 juz Sambut Malam 1 Suro Warga Penaruban


KENDAL, suarakpk.com - Malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Bahkan sebagian orang memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam. Berbeda dengan wilayah lain, kepala desa Penaruban Kecamatan Weleri, Sugito justru mengajak warganya untuk membaca ayat ayat suci Al Qur'an 30 juz yang dipimpin oleh ketua MUI kecamatan Weleri KH. Kasbul. Sedangkan sebagian warga mengikuti bacaan yang dibaca dan ada juga yang menymaknya.
"Harapan kita dengan perbanyak membaca Al Qur'an, kita akan dapat berkahnya yaitu masyarakat P2enaruban bisa hidup sejahtera dan dijauhkan dari balak penyakit dan musibah serta diberikan umur panjang.
Menurut sejarah, saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah. Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.
"Bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa. Cara yang biasa digunakan untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu. " papar tokoh ini.
Sepanjang bulan Suro kita diharapkan untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedangkan waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan. Hal inilah kemudian masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro. Pesta pernikahan yang biasanya berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku yang harus dijalani selama bulan Suro.
Terlepas dari mitos yang beredar dalam masyarakat Jawa berkaitan dengan bulan Suro,  Harus diakui bersama bahwa introspeksi menjelang pergantian tahun memang diperlukan agar lebih mawas diri. " Begitulah tradisi Satu Suro yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa khususnya desa Penarukan."  ungkapnya.(Beki)

No comments:

Post a Comment